Di Indonesia belakangan ini marak kita temui tema tentang agama, entah itu dalam dunia sinetron, musik, kampanye terselubung, dan masih banyak yang lainnya. Secara umum memang baik, tapi apakah kita sudah benar-benar memahami maksud dan tujuan dari
agama itu sendiri yang disebarluaskan oleh nabi-nabi. agama bukan barang dagangan yang bebas diperjualbelikan. Agama bersifat sakral dan sifatnya privacy.
Pernah saya menjumpai orang yang mengajak saya untuk pindah agama sampai mulutnya berbusa-busa karena kebanyakan ngomong
.
tapi itu semua nggak ada artinya kalo saya sendiri nggak mau pindah agama. secara logika orang mau pindah agama atau tidak itu bukan urusan orang per orang, tapi urusan manusia dengan Sang Maha Agung yang menciptakan bumi berikut isinya.
Banyak orang beranggapan zaman nabi sama dengan zaman sekarang, jadi yang tidak sepaham dengannya dianggap sesat atau salah aliran dan lain sebagainya, padahal jika ditelaah lebih detail lagi barangkali agama selain agamanya mungkin memiliki banyak
kelebihan ketimbang agama yang dianutnya, dan hal tersebut sudah dibutakan oleh pemuka agamanya yang memiliki wawasan pengetahuan yang sempit. hal tersebutlah yang sangat rentan dan dapat menimbulkan isu sara, yaitu suku, agama, ras, dan antar golongan.
jadi, jika seseorang mengklaim agamanya yang paling sempurna harus dikaji ulang kebenarannya. seperti ajaran nabi Konghucu berikut ini :
Kong Zi bersabda, “Kalau berlainan Jalan Suci, tidak
usah saling berdebat.” (Sabda Suci XV.40)
Agama bukan barang dagangan
November 10, 2007Bingky Irawan, Pejuang Konghucu
Agustus 21, 2007Kamis siang di Jl Raya Sepanjang, Taman, Sidoarjo. Panas terik membakar kawasan pertokoan lama
di perbatasan Surabaya-Sidoarjo itu. Suasana di sebuah toko pracangan terlihat sangat sibuk. Ada pekerja yang hilir-mudik memikul barang. Pembeli minyak tanah, beras, minyak goreng, terigu, dan sebagainya.
Semua bicara keras-keras, dalam bahasa Jawa atau bahasa Indonesia, layaknya pasar tradisional. Belum lagi deru suara kendaraan bermotor yang berlalu lalang di jalan raya utama Sepanjang itu. Setelah menunggu sekitar 20 menit, seorang pria paro baya keluar menemui saya. Kami pun bersalaman.
“Yah, begini inilah suasana di toko saya. Dari dulu, ya, sama saja. Yang penting, kita syukuri sajalah hidup ini,” ujarnya.
Laki-laki itu tak lain Bingky Irawan alias Poo Sun Bing. Dia pemilik toko tua yang terkesan ‘kuno dan berantakan’ itu. Bingky, warga keturunan Tionghoa, seperti membiarkan siapa saja masuk-keluar tokonya, sekadar melihat-lihat barang, belanja, atau ngobrol dengan keluarganya. Bingky menyambut hangat setiap pelanggan atau warga sekitar yang mampir ke toko merangkap rumahnya. Silakan tanya beberapa tukang parkir di situ, mereka niscaya mengenal benar Bingky Irawan berikut sepak terjang dan kesehariannya.
Bingky Irawan tak sekadar pedagang di Pasar Sepanjang. Sejak Orde Baru pria sederhana ini dikenal sebagai pemuka agama Konghuchu di Jawa Timur, bahkan Indonesia. “Sekarang ini saya sudah ditarik ke pusat, sebagai anggota presidium Matakin. Saya baru saja dari Jakarta karena kebetulan ada acara di sana,” paparnya.
Matakin singkatan dari Majelis Tinggi Agama Konghuchu Indonesia, semacam Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk agama Islam. Matakin mengurus berbagai hal seputar Konghuchu dari Sabang sampai Merauke, mulai dari soal ritual, rumah ibadah (kelenteng), hingga hubungan antaragama dan pemerintah.
“Dulu saya kan hanya berkutat di Surabaya dan Jawa Timur umumnya. Sekarang dipecaya ke pusat, ya, saya jalani saja. Ini amanah,” ujar Bingky Irawan, tokoh yang sangat dekat dengan KH Abdurrahman Wahid, mantan presiden Republik Indonesia sekaligus kiai senior Nahdlatul Ulama.
Berbeda dengan pedagang Tionghoa umumnya yang hanya melulu berdagang, urus bisnis, jarang terlibat dalam aktivitas sosial kemasyarakatan, Bingky Irawan sejak dulu aktif di majelis agama Konghuchu. Bahkan, karena beleid pemerintah Orde Baru yang menafikan kaum Konghuchu,
Bingky pun tumbuh sebagai agamawan sekaligus aktivis. Sebagian besar waktunya diabdikan untuk memperjuangkan hak-hak sipil umat Konghuchu dan warga Tionghoa umumnya.
Tahun 1990-an merupakan puncak kesibukan ayah empat anak ini. Sibuk, karena saat itu umat Konghuchu–dibantu aktivis hak asasi manusia dan berbagai elemen masyarakat sipil–getol-getolnya melakukan dekonstruksi pakem politik Orde Baru. Sebagai pemuka Konghuchu, Bingky Irawan tampil di garis depan sebagai pejuang hak-hak sipil jemaatnya.
Asal tahu saja, waktu itu warga keturunan Tionghoa di Indonesia mengalami diskriminasi hampir di segala bidang. Ekspresi budaya Tionghoa dilarang keras. Harus ganti nama dan ganti agama. Rezim Orde Baru membakukan lima agama (Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha) sebagai agama resmi. Di luar lima itu dianggap bukan agama. Nah, warga Tionghoa yang kebanyakan beragama Konghuchu, seperti leluhurnya, pun apa boleh buat, harus mengingkari suara hatinya. Ingin selamat, ya, harus menyesuaikan diri.
“Makanya, selama Orde Baru kami sulit melakukan penataan manajemen organisasi. Melaksakan ritual agama pun tidak bebas. Selalu dihantui kekhawatiran,” kenangnya.
Berdasar catatan Irianto Subiakto dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), sedikitnya ada 50 peraturan perundangan-undangan yang mendiskriminasi etnis Tionghoa di Indonesia. Sebut saja Keputusan Presidium Kabinet Nomor 127 Tahun 1966 tentang peraturan ganti nama bagi WNI yang memakai nama Cina. Keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi Nomor 285 Tahun 1978 tentang larangan mengimpor, memperdagangkan, dan mengedarkan segala jenis barang cetakan dalam huruf, aksara, dan bahasa Cina. Instruksi Presidium Kabinet Nomor 37 Tahun 1967 tentang kebijaksanaan pokok penyelesaian masalah Cina.
Nah, sekian banyak aturan itu benar-benar membatasi warga Tionghoa di Indonesia. Mereka juga diawasi secara ketat, termasuk ketika beribadah di kelenteng masing-masing.
“Sudahlah, sekarang kita lihat ke depan saja. Apa yang terjadi di masa lalu kita anggap sebagai pelajaran. Mari kita mengambil hikmah untuk kebaikan bersama,” ujar Bingky Irawan yang murah senyum itu.
#####
Singkat cerita, rezim Orde Baru yang otoriter dan represif itu akhirnya ambruk pada 21 Mei 1998. Presiden Soeharto lengser keprabon, tapi tak sempat mandeg pandhito karena menderita ’sakit permanen’.
Angin perubahan terasa di mana-mana. Ruang gerak warga Tionghoa dibuka perlahan-lahan. KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, tokoh NU yang belakangan menjadi teman dekat Bingky Irawan, tak dinyana terpilih sebagai presiden Republik Indonesia.
Sebuah kejutan politik yang luar biasa mengingat Gus Dur bukan tokoh dari partai politik besar. Kondisi fisik Gus Dur pun tidak prima. Bingky Irawan mengaku terkejut menyaksikan kenyataan politik itu. Kiai, budayawan, politikus, kolumnis… yang sejak beberapa tahun lalu getol membela hak-hak warga Tionghoa, khususnya orang Konghuchu, itu pun menjadi orang nomor satu di republik ini.
“Siapa yang mengira kalau Gus Dur menjadi presiden? Tapi, sebagai orang beragama, kita percaya bahwa itu semua sudah diatur oleh Tuhan yang Maha Esa. Kalau bukan karena kehendak Tuhan, nggak mungkin Gus Dur jadi presiden. Iya apa nggak?” tukas Bingky Irawan.
Di saat euforia reformasi masih terasa, Presiden Gus Dur mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000. Keppres ini mengatur antara lain penyelengaraan kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadat Cina. Pada tahun 2001 Gus Dur kembali membuat gebrakan dengan menjadikan tahun baru Imlek sebagai hari libur nasional fakultatif. Gus Dur sendiri hadir dalam perayaan Imlek tingkat nasional di Jakarta.
“Saya sangat terharu waktu itu. Seperti mimpi saja melihat seorang presiden hadir di perayaan Imlek,” kenang Bingky Irawan. Bisa dipahami karena selama tiga dekade lebih tidak pernah ada perayaan Imlek maupun ekspresi seni budaya Tionghoa di tempat umum. Jangankan pejabat sekaliber presiden, pejabat rendahan macam kepala desa atau ketua rukun tetangga pun ramai-ramai menjauhi apa saja yang berbau Tionghoa.
Kebijakan Presiden Abdurrahman Wahid kemudian diteruskan oleh Megawati Soekarnoputri, penggantinya. Presiden Megawati menetapkan Tahun Baru Imlek alias Sin Cia sebagai hari libur nasional. Ekspresi budaya, agama, seni, bahasa, dan segala sesuatu yang berbau Tionghoa pun bisa dinikmati di tanah air.
#####
Perjuangan panjang Bingky Irawan dan kawan-kawan untuk memulihkan hak-hak sipil warga Tionghoa berbuah manis. Berkat reformasi yang digerakkan mahasiswa di berbagai kampus. Berkat Gus Dur yang berani melawan arus. Bekat sokongan dari berbagai elemen civil society. Juga dukungan para tokoh lintas agama.
Bingky Irawan sendiri melakukan semacam reposisi. Kalau 1990-an hingga tahun-tahun awal reformasi selalu berada di depan, getol bicara soal hak-hak sipil orang Konghuchu (dan Tionghoa umumnya), bila perlu berperkara di pengadilan, memilih keluar dari hiruk-pikuk sorotan publik. “Saya kembali bekerja, beraktivitas seperti biasa,” ujar kakek empat cucu itu.
Lantas, apakah perjuangan Bingky Irawan selesai? Sudah puas karena hak-hak sipil warga Konghuchu diakomodasi, bahkan Konghuchu sudah diakui sebagai salah satu agama yang dipeluk cukup banyak orang Indonesia?
Bingky menegaskan, yang namanya perjuangan itu tidak pernah mengenal kata selesai. Semua manusia, selama masih bernapas, akan terus berjuang di bidang apa saja. Perjuangan baru berakhir setelah ajal datang menjemput.
“Sekarang, menurut saya, perjuangan itu justru semakin berat,” tegas Bingky Irawan.
“Kenapa begitu?” tanya saya.
“Okelah, sekarang hak-hak sipil sudah kita dapatkan. Mau beribadah dan melakukan apa saja sudah tidak ada halangan. Tapi itu kan baru tentang hak-hak sipil. Sekarang bagaimana dengan kewajiban kepada bangsa dan negara?”
Senyampang masih dalam suasana Hari Kemerdekaan RI, Bingky mengingatkan umat Konhuchu akan kewajibannya kepada nusa dan bangsa. Sebab, kadang-kadang orang terlalu getol menuntut, memperjuangkan, hak-haknya, tapi lupa dengan kewajibannya. Padahal, antara hak dan kewajiban harus berjalan seiring.
“Siapa pun dia, agama apa pun, punya kewajiban yang sama untuk republik ini,” katanya.
Bingky Irawan mengaku prihatin dengan kondisi bangsa Indonesia sekarang. Kenapa? “Kita mengalami krisis moral dan etika. Sebab, banyak pemimpin yang tidak lagi mengindahkan moral dan etika. Jauh sekali dari ajaran Rasulullah Muhammad SAW, Yesus Kristus, Buddha, Konghuchu…. Ini berbahaya untuk bangsa kita,” begitu petuah Bingky Irawan.
Dekat dengan Keluarga Gus Dur
Kedekatan Bingky Irawan dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), tokoh senior Nahdlatul Ulama (NU), sudah menjadi rahasia umum. Dalam berbagai acara, entah formal maupun informal, Bingky keap terlihat mendampingi Gus Dur. Bingky berjalan bersama, menggandeng tangan Gus Dur, bahkan sekali-sekali membisiki mantan presiden Republik Indonesia itu.
Saking dekatnya, ada yang menyebut Bingky Irawan sebagai penasihat Gus Dur. Bagaimana ini?
“Hehehe…. Masak, saya disebut penasihat spiritual Gus Dur. Apalah saya ini sih, kok disebut-sebut seperti itu. Justru saya yang perlu nasihat dari Gus Dur karena beliau itu guru bangsa,” ujar Bingky Irawan.
Bagi Bingky, Gus Dur merupakan tokoh luar biasa yang banyak berjasa mengembalikan hak-hak sipil warga Konghuchu, dan Tionghoa umumnya, yang sempat dibredel rezim sebelumnya. Kita masih ingat, saat menjabat presiden, KH Abdurahman Wahid mencabut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967.
Inpres yang dikeluarkan Presiden Soeharto itu melarang semua bentuk ekspresi adat istiadat serta seni budaya Tionghoa di Indonesia. Berkat Keputusan Presiden Abdurrahman Wahid Nomor 6 Tahun 2000, semua belenggu itu hilang. Selanjutnya, pada 2001, Gus Dur menetapkan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur fakultatif. Sejak itulah ekspresi budaya Tionghoa terlihat marak di mana-mana. Tarian barongsai dan lian liong yang mati selama 30 tahun lebih pun bangkit kembali.
“Apa yang dilakukan Gus Dur itu membutuhkan keberanian dan kemauan politik yang luar biasa. Sulit dibayangkan hal itu bisa dilakukan pejabat lain. Itu yang membuat kami tidak akan pernah melupakan jasa-jasa beliau,” kata pria bernama lahir Poo Sun Bing ini.
#####
Bagaimana seorang Bingky Irawan yang hanya pedagang biasa di Pasar Sepanjang, Sidoarjo, mengenal Gus Dur? Ceritanya panjang. Awalnya, Bingky hanya mengetahui nama Gus Dur dari media massa karena sejak 1980-an cucu pendiri NU itu aktif sebagai pemikir sosial budaya di tanah air. Gus Dur sangat berani melontarkan pendapat-pendapat alternatif yang bebeda dengan pandangan rezim Orde Baru.
Apa yang dikatakan Gus Dur senantiasa menjadi bahan polemik menarik. Dibahas di mana-mana, menjadi wacana yang mencerahkan. “Saya ya tahu Gus Dur dari koran-koran. Dan saya sangat menghargai pemikiran-pemikirannya yang pluralistik, multikultural, demokratis, menghargai sesama apa pun latar belakangnya.”
Nah, menjelang kejatuhan Orde Baru Bingky Irawan bersama umat Konghuchu menghadapi masalah serius menyangkut hak-hak sipil. Ada sepasang pengantin beragama Konghuchu, Budi Wijaya dan Lanny Guito, menghadapi masalah besar saat hendak mencatatkan pernikahannya di Kantor Catatan Sipil Surabaya.
Pegawai Catatan Sipil menolak karena agama Konghuchu tidak diakui di Indonesia. Seperti diketahui, pemerintah hanya mengakui lima ‘agama resmi’ (Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha). Budi-Lanny pun diminta untuk memilih salah satu dari lima agama itu agar pernikahannya bisa dicatat dan diakui negara. Praktik ini sudah dianggap ‘lazim’ selama Orde Baru.
Hampir semua umat Konghuchu terpaksa main sandiwara dengan ‘mengganti’ agamanya di depan pejabat Catatan Sipil hanya untuk melegalisasi pernikahannya. Begitu pula untuk beroleh selembar kartu tanda penduduk (KTP) atau surat-surat lain yang punya kolom agama. Konghuchu, kita masih ingat, tidak dianggap agama oleh rezim Soeharto.
Nah, Budi dan Lanny yang baru saja melangsungkan pernikahan di kelenteng Konghuchu menolak kebijakan Catatan Sipil (Dinas Kependudukan) yang diskriminatif itu. Keduanya nekat mengajukan gugatan resmi ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya. Disebut ‘nekat’ karena sejak dulu tidak ada orang Konghuchu atau penganut agama/kepercayaan di luar lima agama resmi yang berani mempertanyakan kebijakan pemerintah di bidang administrasi kependudukan.
Sebagai pemuka Konghuchu, Bingky Irawan mau tidak mau harus mengawal dan mendampingi kedua jemaatnya yang masih muda itu. “Masak, umat saya ada masalah saya diam saja. Kami nggak minta yang muluk-muluk. Catatlah pernikahan umat Konghuchu seperti juga umat yang beragama lain. Kita sama-sama bangsa Indonesia yang punya hak-hak yang sama dan dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945,” papar Bingky Irawan.
Sidang kasus Budi-Lanny ini mendapat sorotan luas dari media massa. Polemik, perbedaan pendapat, muncul dari berbagai tokoh. Boleh dikata, sebagian besar pembicara menganggap tepat kebijakan Catatan Sipil yang menolak mengakui pernikahan Budi-Lanny. Polemik kemudian melebar seputar layak tidaknya Konghuchu disebut agama. Saat itulah Gus Dur muncul dengan pembelaannya yang blak-blakan terhadap umat Konghchu, khususnya Budi dan Lanny.
Tak hanya itu. Gus Dur menyatakan siap menjadi saksi ahli di PTUN untuk membela Budi dan Lanny. Tawaran Gus Dur ini jelas tak disia-siakan oleh Bingky Irawan dan para aktivis Konghuchu di Jawa Timur. Ketika saatnya tiba, Gus Dur akhirnya benar-benar tampil sebagai saksi ahli di pengadilan. Bobot politik sidang warga negara biasa ini pun menjadi sangat tinggi karena media massa memberitakan kasus ini secara luas.
“Nah, sejak itu saya mulai dekat dengan beliau. Jadi, kasus Budi-Lanny itu punya banyak hikmah untuk saya pribadi dan umat Konghuchu umumnya. Kami punya kawan baru yang selalu mendampingi kami dalam perjuangan mengurus hak-hak sipil. Namanya Gus Dur,” kata ayah empat anak ini.
Gara-gara dekat Gus Dur, nama Bingky Irawan mulai dikenal publik. Wartawan yang selama ini tidak kenal Bingky Irawan akhirnya tahu bahwa pria ini pemuka agama Konghuchu. Jabatan Bingky Irawan saat itu ketua Majelis Agama Konghuchu Indonesia (Makin) Jawa Timur. Ia juga mengurus Kelenteng Boen Bio di Jl Kapasan Surabaya.
“Saya sampai kewalahan melayani permintaan wawancara dari berbagai wartawan. Tapi nggak apa-apa. Itu merupakan peluang bagi saya untuk menjelaskan berbagai hal seputar agama Konghuchu.”
Kini, perjuangan panjang Bingky Irawan dan kawan-kawan bersama Gus Dur boleh dikata telah behasil. Berbagai ekspresi budaya Tionghoa boleh digelar di mana saja, kapan saja. Pencatatan pernikahan warga Tionghoa pun tidak lagi dipersulit. Lalu, bagaimana kelanjutan hubungan antara Bingky Irawan dan Gus Dur?
“Ya, tetap bagus seperti dulu. Kami selalu berkomunikasi. Sebab, Gus Dur itu sudah saya anggap seperti sahabat dan guru saya. Saya itu mau berjuang karena ada Gus Dur. Kalau nggak ada Gus Dur, ya, saya nggak mungkin berjuang seperti ini,” tegas Bingky Irawan.
Berhenti Melukis demi Kekasih
Tak banyak yang tahu kalau Bingky Irawan sejak kecil berbakat sebagai pelukis. Begitu senangnya pria ini dengan seni rupa, Bingky sempat bergabung dengan sebuah komunitas perupa di kawasan Jl Embong Macan, Surabaya, pada tahun 1970-an.
“Saya bisa menggambar apa saja. Tapi umumnya lukisan saya itu naturalis, melukis pemandangan. Banyak lukisan saya yang dikoleksi orang Belanda, Jerman, dan sebagainya. Saya sendiri malah tidak punya simpanan satu pun lukisan karya saya sendiri,” tutur Bingky Irawan kepada saya di rumahnya, 16 Agustus 2007.
Pada 1970-an bioskop di Surabaya dan kota-kota lain di Jawa Timur sangat digemari masyarakat. Film-film Indonesia maupun Barat diputar di mana-mana. Nah, waktu itu distributor melibatkan para pelukis untuk membuat poster-poster film. “Dulu poster film sangat besar. Saya ikut menggambar bersama teman-teman. Tiap hari ada saja yang kami garap,” kenangnya.
Hingga suatu ketika Bingky Irawan bertemu dengan Susilowati, gadis manis asal Surabaya. “Saya pacaran dengan dia yang sekarang menjadi istri saya. Dia melarang saya menjadi pelukis. Tidak perlu jadi seniman,” cerita Bingky Irawan lalu tertawa kecil.
Kenapa begitu?
“Sebab, seniman itu suka lupa diri. Kalau sudah melukis, wah, dia asyik sendiri. Jiwanya dicurahkan habis-habisan ke objek lukisannya. Nah, kalau saya terus melukis, Susilowati khawatir saya lupa sama dia. Hehehe…,” ujar Bingky Irawan.
Saking cintanya pada Susilowati, Bingky memilih mematuhi syarat dari kekasihnya. Awalnya berat, tapi lama kelamaan dia bisa meninggalkan dunia lamanya, seni lukis. “Sampai sekarang saya masih bisa melukis, tapi sekadar hobi saja. Paling bikin karikatur kalau ada ide yang mau saya sampaikan.”
Nah, setelah menikah, Bingky Irawan yang terlahir dari orangtua beragama Konghuchu mengaku mulai belajar mendalami agamanya. Sebab, sebelum itu ia beragama secara formalitas belaka. “Saya mulai dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan mendalam seperti mengapa orang harus beragama. Agama itu apa. Pertanyaan-pertanyaan ini muncul justru karena saya dekat dengan orang-orang Kejawen.”
Sambil berdagang di Sepanjang, Sidoarjo, Bingky Irawan semakin tekun mempelajari ajaran Konghuchu di Kelenteng Boen Bio, Jl Kapasan Surabaya. Di sini ayah empat anak (satu perempuan, tiga laki-laki) mengaku semakin menemukan Tuhan melalui ajaran agama yang diwariskan oleh leluhurnya itu.
Akhirnya, pada tahun 1985 Bingky Irawan ditahbiskan sebagai pengurus kelenteng ternama di Kota Surabaya itu. ‘Karier’ Bingky Irawan di bidang keagamaan Konghuchu terus menanjak seiring perjuangannya untuk mengembalikan hak-hak sipil umat Konghuchu yang terpasung selama rezim Orde Baru. Kini, Bingky tercatat sebagai salah satu anggota presidium Majelis Tinggi Agama Konghuchu Indonesia (Matakin) yang berkedudukan di Jakarta.
Nama : Bingky Irawan alias Poo Sun Bing
Tempat/tanggal lahir: Surabaya, 7 Februari 1952
Istri: Susilowati
Anak:
1. Puspita Sari (menikah)
2. Agus Purwanto (menikah)
3. Agus Cahyono
4. Agus Kurniawan
Alamat: Jl Raya Sepanjang, Taman, Sidoarjo.
Pekerjaan: Pengusaha, Agamawan Konghuchu
Pendidikan:
*SD Tionghoa di Praban, Surabaya.
*Sekolah Seni Lukis, Surabaya
*Sekolah Teologi Konghuchu, Jl Kapasan, Surabaya
Karier/Aktivitas:
*1986-1991: Wakil Ketua Pengurus Kelenteng Boen Bio, Surabaya.
*1991-2006: Ketua Pengurus Kelenteng Boen Bio, Surabaya.
*1991-2006 : Ketua Majelis Agama Konghuchu Indonesia (Makin) Jawa Timur.
*2006-sekarang: Anggota Presidium Majelis Tinggi Agama Konghuchu. Indonesia (Matakin), Jakarta.
*1991-sekarang: Forum Lintas Agama di Surabaya, Jawa Timur.
sumber : http://hurek.blogspot.com/2007/08/bingky-irawan-pejuang-konghuchu.html
penulis : LAMBERTUS L. HUREK
adalah wartawan radar surabaya
Meski Diakui SBY, Depag Belum Bentuk Direktorat Konghucu
Agustus 15, 2007Jakarta, Meski Presiden SBY mengakui Konghucu sebagai agama resmi di Indonesia, sejauh ini Departemen Agama (Depag) belum membentuk Direktorat Agama Konghucu yang memayungi kepentingan pemeluk agama itu.
Pembentukan direktorat tersebut masih menunggu instruksi Menteri Agama Maftuh Basyuni.
“Pembentukan Direktorat Agama Konghucu masih menunggu (instruksi). Kalau itu merupakan arahan Presiden tentunya kita punya komitmen juga,” kata Sekjen Depag Faisal Ismail saat dihubungi wartawan via telepon Selasa (7/2/2006).
Faisal menjelaskan, pemerintah tidak melakukan kebijakan mengakui atau tidak mengakui suatu agama di ada Indonesia. “Pemerintah netral!” tandasnya.
Saat ini ada lima agama yang dikelola dan difasilitasi pemerintah, dan Konghucu termasuk salah satunya. “Difasilitasi dalam artian diperhatikan hak-hak sipilnya,” kata Faisal.
Perhatian terhadap hak-hak sipil adalah pencatatan KTP, pemberian mata pelajaran agama Konghucu bagi pemeluknya di sekolah-sekolah dan pernikahan secara Konghucu di kantor catatan sipil.
“Yang saya tahu ketika saya bertemu mereka, mereka tidak menuntut pembentukan direktorat. Yang mereka minta adalah diperhatikannya hak-hak sipil itu,” kata dia. (umi/)
sumber http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/02/tgl/07/time/141841/idnews/534162/idkanal/10
profil meng zi
Juli 26, 2007Mensius (Hanzi: 孟子, hanyu pinyin: Mengzi/Bingcu) (sekitar 372 SM – 289 SM) adalah seorang filsuf Tiongkok. Ia adalah penerus ajaran Khonghucu/Kongzi yang hidup sekitar 300 tahun setelah wafatnya Khonghucu. Ia telah banyak belajar dari cucu Khonghucu yang bernama Zi Si/Cu Su yang membukukan Kitab Zhong Yong/Tengah Sempurna salah satu bagian dari Kitab Shi Shu yang merupakan tuntunan Keimanan bagi para penganut agama ‘Ru’ atau Khonghucu.Semasa kecil, ia diasuh oleh ibunya yang sangat bijaksana. Ia pernah berpindah tempat tinggal sampai tiga kali; pertama tempat tinggalnya dekat tanah pemakaman, ibunya sangat khawatir ketika ia sering menirukan orang yang melaksanakan upacara pemakaman. Kemudian ibunya mengajaknya pindah ke dekat pasar, namun kembali ibunya juga merasa khawatir karena ia sering menirukan sebagai layaknya seorang pedagang yang melakukan transaksi jual beli. Akhirnya, sang ibu memilih untuk tinggal di dekat sekolah dengan harapan agar putranya bisa belajar dan bersekolah seperti halnya anak sebayanya.
Namun pada suatu hari, ia pulang sekolah lebih awal ketika itu ibunya sedang menenun kain. Sang ibu berfirasat bahwa Mensius telah bolos dari sekolahnya. Oleh karena itu ia segera mengambil pisau dan memotong kain yang sedang ditenunnya sebagai peringatan kepada putranya tersebut supaya ia tidak melakukannya lagi. Bilamana ia tidak bersungguh-sungguh belajar, maka seperti kain tenun yang tak berguna dan terpotong tadi.
Seperti halnya Khonghucu, Mensius banyak mengajarkan tentang Watak Sejati (Xing) manusia yang memiliki sifat bajik dari Tian yakni berupa Cinta Kasih (Ren), Kebenaran (Yi), Li (Susila), Bijaksana (Ti) dan Dapat dipercaya (Xin). Setiap manusia telah dikaruniai dengan Wu Chang (Lima Kebajikan) tersebut, oleh karena itu menurut Mensius, Watak Sejati (Xing) manusia itu bersifat bajik. Menurut Mensius hal tersebut dapat dibuktikan apabila ada seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa secara tiba-tiba hendak terjerumus ke dalam sumur, maka setiap orang yang melihatnya pasti akan segera tergerak hatinya untuk menolong dan menyelamatkannya tanpa menghiraukan siapa anak kecil itu. Hal inilah yang dimaksudkan oleh Mensius bahwa pada dasarnya manusia memiliki perasaan atau hati nurani yang sama, tetapi karena pengaruh lingkungan maka Watak Sejati (Xing) yang bersifat bajik tadi bisa dirusak oleh keadaan lingkungan di sekitarnya. Oleh karena itu menjadi kewajiban setiap insan untuk selalu memelihara dan merawat Watak Sejatinya agar selalu memancarkan sifat-sifat baik.
Beliaupun sering melakukan pembicaraan dengan para Raja atau penguasa pada masa itu untuk meyakinkan mereka agar supaya menjadi pemimpin yang benar dan bermoral. Disamping itu pula beliau mengajarkan tentang demokrasi dalam pemerintahan, karena seorang Raja atau pemimpin itu dipercaya mendapatkan mandat dari Tian (Langit) atau disebut dengan Tian Ming. Dia harus bertindak sebagai ayah bunda rakyatnya. Ditegaskannya pula bahwa :”Tuhan melihat seperti halnya rakyat melihat, dan Tuhan mendengar seperti halnya rakyat mendengar”.
from : http://id.wikipedia.org/wiki/Mensius
kitab meng zi ayat 1
Juli 26, 2007梁惠王章句上
孟子見梁惠王,王曰:「叟!不遠千里而來,亦將有以利吾國乎﹖」孟子對曰:「王何必曰『利』﹖ 亦有『仁義』而已矣。王曰『何以利吾國﹖』大夫曰『何以利吾家﹖』士庶人曰『何以利吾身﹖』上下 交征利,而國危矣。萬乘之國,弒其君者,必千乘之家;千乘之國,弒其君者,必百乘之家。萬取千焉, 千取百焉,不為不多矣。苟為後義而先利,不奪不饜。未有『仁』而遺其親者也;未有『義』而後其君者 也。王亦曰『仁義』而已矣,何必曰『利』﹖」
King Hui of Liang A
Mengzi went to see king Hui of Liang. The king said: “Venerable Sir, since you have not counted it far to come here, a distance of a thousand miles, may I presume that you are provided with counsels to profit my kingdom?”
Mengzi replied: “Why must your Majesty use that word ‘profit’? What I am provided with, are counsels to benevolence and righteousness, and these are my only topics. If your Majesty say, ‘What is to be done to profit my kingdom?’ the great officers will say, ‘What is to be done to profit our families?’ and the inferior officers and the common people will say, ‘What is to be done to profit our persons?’ Superiors and inferiors will try to snatch this profit the one from the other, and the kingdom will be endangered. In the kingdom of ten thousand chariots, the murderer of his sovereign shall be the chief of a family of a thousand chariots. In a kingdom of a thousand chariots, the murderer of his prince shall be the chief of a family of a hundred chariots. To have a thousand in ten thousand, and a hundred in a thousand, cannot be said not to be a large allotment, but if righteousness be put last, and profit be put first, they will not be satisfied without snatching all. There never has been a benevolent man who neglected his parents. There never has been a righteous man who made his sovereign an after consideration. Let your Majesty also say, ‘Benevolence and righteousness, and let these be your only themes.’ Why must you use that word ‘profit’?”
王坐於堂上,有牽牛而過堂下者。王見之曰:『牛何之﹖』對曰:『將以釁鐘。』王曰:『舍之!吾不忍 其觳觫,若無罪而就死地。』對曰:『然則廢釁鐘與﹖』曰:『何可廢也﹖以羊易之。』
“The king was sitting aloft in the hall, when a man appeared, leading an ox past the lower part of it. The king saw him, and asked ‘Where is the ox going?’ The man replied, ‘We are going to consecrate a bell with his blood.’ The king said, ‘Let it go. I cannot bear its frightened appearance, as if it were an innocent person going to the place of death.’ The man answered, ‘Shall we then omit the consecration of the bell?’ The king said, ‘How can that be omitted? Change it for a sheep.’”
from : http://www.chinaknowledge.de/Literature/Classics/mengzi.html
silaturahmi
Juni 4, 2007pagi tadi menghadiri acara silaturahmi dalam rangka Waisak 2551 atas undangan dari Kakanwil Departemen Agama Kaltim. Sungguh suatu kebanggan bagi saya sebagai salah satu umat Konghucu di kota Samarinda, karena sudah diakui dan dilegalkan atas acara resmi seperti tadi pagi digelar di vihara Mandala Samarinda. Walaupun ada sedikit kesalahan teknis pada slide presentasi pada saat perwakilan agama Konghucu yang diwakili oleh pak Tundra, slide yang harusnya bertuliskan perwakilan dari Majelis Konghucu dan backgroundnya tempat ibadah, mungkin karena tidak ada bahan poto Litang atau memang kesulitan mendapatkannnya digantilah background menjadi jembatan Mahakam yang bergambar ikan pesut, namun sebagai seorang Kuncu atau susilawan atau insan kamil, sebaiknya kita tidak boleh berburuk sangka, anggaplah suatu ketidaksengajaan.
selain itu disana walaupun tempatnya agak masuk dalam gang, tapi tempat ibadah sangat lux dan terkesan tertata rapi dan bersih, jika dibandingkan dengan tempat ibadah kami yang kecil dan masih terkesan kurang rapi sangat jauh, itu masih belum seberapa dengan pengurusnya yang familiar dan murah senyum menambah kesejukan didalam ruangan, mereka selalu ada waktu untuk ibadahnya.
aaahhhh…sudahlah….daripada bikin tambah ngiri sampe disini aja dulu laoran dari vihara Maitreya. Semoga hanya kebajikan Tuhan berkenan.WDDT.
to know the meaning of qingming
Maret 21, 2007festival qingming hanzi tradisional: 清明節; sederhana: 清明节; pinyin: qīng míng jié) atau di Indonesia lebih dikenal sebagai Ceng Beng (bahasa Hokkien) adalah ritual tahunan etnis Tionghoa untuk bersembahyang dan ziarah ke kuburan sesuai dengan ajaran Khonghucu. Ceng Beng dianggap sama pentingnya dengan upacara sembahyang peringatan hari wafat orangtua dan luluhur. Di samping Imlek dan Cap Go Me, Ceng Beng adalah hari raya Tionghoa lainnya yang juga tidak pernah luput dirayakan, yang jatuh pada tiap tanggal 5 April.
Tradisi Ceng Beng melestarikan perintah Kaisar Chu Goan Chiang agar rakyatnya mencari dan membersihkan kuburan sanak keluarganya yang tak diketahui keberadaannya.
Ceng Beng diambil dari kata ceng (terang) dan beng (jernih). Karena hari tersebut musim semi di Tiongkok (Cina), maka merupakan kesempatan yang paling baik untuk mengunjungi thiong (pemakaman umum). Sembari membawa hio (dupa batangan untuk sembahyang), warga Tionghoa nyekar di bong (makam) untuk merayakan pertemuan dengan keluarga yang sudah meninggal.
Tiga hari sebelum ceng beng, makam-makam itu sudah harus dibersihkan. Rumput dan alang-alang dipotong, batu nisan dan bangunan sekelilingnya disikat bersih dengan air dan sabun. Pokoknya saat nyekar sudah harus bersih. Saat ini, karena pemakaman-pemakaman Tionghoa sudah banyak tergusur, mereka pergi ke ke tempat-tempat penitipan abu jenazah. Termasuk ke krematorium di pantai Dadap (perbatasan Jakarta-Tangerang) dan Cilincing. Namun, masih ada pula yang pergi ke pemakaman-pemakaman Tionghoa yang masih tersisa, seperti di Karawaci (Tangerang), Kebon Nanas (Jakarta Timur), Petamburan (Jakarta Pusat), dan Bogor.
Saat berziarah, warga Tionghoa membawa makanan berupa ketupat dan lepet, yang sudah dimasak dua hari sebelumnya. Sehari sebelum ceng beng merupakan hari bebas api. Selama sehari penuh di rumah-rumah tidak diperbolehkan ada api menyala. Tradisi ini punya kaitan dengan peristiwa di negeri leluhur Tiongkok.
Konon, kala itu ada seorang pangeran yang karena difitnah terpaksa meninggalkan istana. Selama pembuangan dan pengembaraan yang panjang, di antara pengikut pangeran itu terdapat seorang pembesar yang sangat setia. Begitu setianya pembesar ini hingga pernah memotong daging pahanya untuk santapan sang pangeran. Sayangnya, ketika pangeran kembali menjadi raja, Kai Cu Tai –nama pengikut setianya– terlupakan.
Raja yang kemudian diingatkan hal itu akhirnya mengerahkan rakyatnya untuk mencarinya. Karena tidak berhasil, ia pun memerintahkan untuk membakar hutan agar pengikut setianya itu keluar. Tragisnya, orang yang dicari-cari itu ditemukan dalam keadaan terpanggang sambil memeluk ibunya yang telah tua. Raja yang bersedih akhirnya memerintahkan rakyat untuk tidak menyalakan api sehari sebelum ceng beng, sebagai tanda duka. Karenanya, ceng beng juga disebut hari raya makan sajian dingin.
Sesuai kepercayaan mereka, keharusan mengunjungi makam leluhur di hari ceng beng merupakan wujud bakti seorang anak terhadap orang tua dan leluhurnya. Menurut ajaran Khonghucu, bakti ini harus diwujudkan selama mereka hidup dan sesudah meninggal. Bagi orang Tionghoa, bakti seorang anak terhadap orang tua/leluhur dianggap kebajikan paling utama.
Anak harus menghormati orang tua dan tidak mempermalukannya. Tidak terbatas pada generasi yang masih hidup tetapi juga nenek moyang yang sudah tiada. Anak yang berbakti (hua) –dalam versi mereka– dikasihi dan diberkati thian (Tuhan). Sebaliknya anak yang durhaka (put hau), dianggap sangat terkutuk karena melupakan jasa-jasa orang tua.
http://id.wikipedia.org/wiki/Festival_Qingming
ada juga dari versi berbeda dari http://www.freelists.org/archives/mahasathi/03-2004/msg00266.html
Setiap tanggal 4 atau 5 April, menurut tradisi Tionghoa, adalah hari Cheng Beng (Mandarin: Qingming). Di mana menurut tradisi Tionghoa, orang akan beramai-ramai pergi ke tempat pemakaman orang tua atau para leluhurnya untuk melakukan upacara penghormatan. Biasanya upacara penghormatan ini dilakukan dengan berbagai jenis, misalnya saja membersihkan kuburan, menebarkan kertas sampai dengan membakar kertas yang sering dikenal dengan Gincua (mandarin: Yinzhi=kertas perak). Cheng beng adalah salah satu dari 24 Jieqi yang ditentukan berdasarkan posisi bumi terhadap matahari. Pada Kalender Gregorian AWAL (bukan akhir!) Cheng beng jatuh pada tanggal 5 April atau 4 April. Bila kita artikan kata Cheng beng, maka Cheng berarti cerah dan Beng artinya terang sehingga bila digabungkan maka Chengbeng berarti terang dan cerah. Saat Chengbeng ideal untuk berziarah dan membersihkan makam karena cuaca yang bagus (cuaca cerah, langit terang). Apalagi pada jaman dahulu lokasi pemakaman cukup jauh dari tempat pemukiman. Bahkan bila ada orang yang tinggal jauh dari kampung halamannya, mereka akan berusaha untuk pulang ke kampung halamannya, khusus untuk melakukan upacara penghormatan para luluhur. Sejarah Cheng Beng Sejarah Cheng beng dimulai sejak dulu kala dan sulit dilacak kapan dimulainya. Pada dinasti Zhou, awalnya tradisi ini merupakan suatu upacara yang berhubungan dengan musim dan pertanian serta pertanda berakhirnya hawa dingin (bukan cuaca) dan dimulainya hawa panas. Ada sebuah syair yang menggambarkan bagaimana cheng beng itu yaitu: "Sehari sebelum cheng beng tidak ada api" atau yang sering disebut Hanshijie (han: dingin, shi: makanan, jie: perayaan/festival). Hanshijie adalah hari untuk memperingati Jie Zitui yang tewas terbakar di gunung Mianshan. Jin Wengong (raja muda negara Jin pada periode Chunqiu akhir dinasti Zhou) memerintahkan rakyat untuk tidak menyalakan api pada hari tewasnya Jie Zitui. Semua makanan dimakan dalam kondisi dingin, sehingga disebut perayaan makanan dingin. Chengbeng lebih tepat jika dikatakan terjadi pada tengah musim semi. Pertengahan musim semi (Chunfen) sendiri jatuh pada tanggal 21 Maret, sedangkan awal musim panas (Lixia) jatuh pada tanggal 6 Mei. Sejak jaman dahulu hari cheng beng ini adalah hari untuk menghormati leluhur. Pada dinasti Tang, hari cheng beng ditetapkan sebagai hari wajib untuk para pejabat untuk menghormati para leluhur yang telah meninggal, dengan mengimplementasikannya berupa membersihkan kuburan para leluhur, sembahyang dan lain-lain. Di dinasti Tang ini, implementasi hari cheng beng hampir sama dengan kegiatan sekarang, misalnya seperti membakar uang-uangan, menggantung lembaran kertas pada pohon Liu, sembayang dan membersihkan kuburan. Yang hilang adalah menggantung lembaran kertas, yang sebagai gantinya lembaran kertas itu ditaruh di atas kuburan. Kebiasaan lainnya adalah bermain layang-layang, makan telur, melukis telur dan mengukir kulit telur. Permainan layang-layang dilakukan pada saat Chengbeng karena selain cuaca yang cerah dan langit yang terang, kondisi angin sangat ideal untuk bermain layang-layang. Sedangkan pohon Liu dihubungkan dengan Jie Zitui, karena Jie Zitui tewas terbakar di bawah pohon liu. Pada dinasti Song (960-1279) dimulai kebiasaan menggantungkan gambar burung walet yang terbuat tepung dan buah pohon liu di depan pintu. Gambar ini disebut burung walet Zitui. Kebiasaan orang-orang Tionghoa yang menaruh untaian kertas panjang di kuburan dan menaruh kertas di atas batu nisan itu dimulai sejak dinasti Ming. Menurut cerita rakyat yang beredar, kebiasaan seperti itu atas suruhan Zhu Yuanzhang, kaisar pendiri dinasti Ming, untuk mencari kuburan ayahnya. Dikarenakan tidak tahu letaknya, ia menyuruh seluruh rakyat untuk menaruh kertas di batu nisan leluhurnya. Rakyatpun mematuhi perintah tersebut, lalu ia mencari kuburan ayahnya yang batu nisannya tidak ada kertas dan ia menemukannya. Kenapa pada hari cheng beng itu harus membersihkan kuburan? Itu berkaitan dengan tumbuhnya semak belukar yang dikawatirkan akar-akarnya akan merusak tanah kuburan tersebut. Juga binatang-binatang akan bersarang di semak tersebut sehingga dapat merusak kuburan itu juga. Dikarenakan saat itu cuaca mulai menghangat, maka hari itu dianggap hari yang cocok untuk membersihkan kuburan. Selain cerita di atas, ada pula tradisi dimana jika orang yang merantau itu ketika pulang pada saat cheng beng, orang itu akan mengambil tanah tempat lahirnya dan menaruh di kantong merah. Ketika orang tersebut tiba lagi di tanah tempat ia merantau, ia akan menorehkan tanah tersebut ke alas kakinya sebagai perlambang bahwa ia tetap menginjak tanah leluhurnya. Dhamma, antara tradisi dan ajaran Sejak lahirnya apa yang disebut 'agama Buddha' dari ribuan tahun yang lalu sampai sekarang, sudah berkembang dan bercampur dengan tradisi setempat, sehingga sulit dikatakan mana yang 'benar-benar' ajaran Sang Buddha dan mana yang bukan. Banyak orang Tionghoa masih melakukan tradisi secara turun menurun seperti Cheng Beng. Dengan menyadari hal ini, kita dituntut kebijaksanaan kita agar dapat membedakan mana yang sebenarnya tradisi dan mana yang Ajaran Buddha. Tetapi juga tidak salah kita tetap menjalankan tradisi, yang penting kita harus tahu dan memilah-milah antara tradisi dan agama Buddha. Sang Buddha sendiri tidak menolak bila kita mempertahankan tradisi yang sudah ada sejak turun menurun, yang penting kita jalankan adalah untuk kebaikan satu dan banyak orang. Di dalam Sigalovada Sutta juga, Buddha sudah menjelaskan bahwa salah satu cara menghormati leluhur adalah dengan cara menjaga nama baik keluarga bahkan kalau bisa semakin mengharumkan nama keluarga dan juga mengatur pemberian sesaji (pelimpahan jasa-ed) kepada sanak keluarga yang telah meninggal. Nah, itu semua kembali tergantung kepada diri kita sendiri bagaimana kita menjalankannya. (dari berbagai sumber) Buletin Maya Indonesia Dharma Mangala, 9 Maret 2004, tahun I, no 7 Petunjuk berlangganan : Dharma_mangala-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx Semua artikel dapat diperbanyak tanpa ijin, namun harus mencantumkan sumbernya. **************** Sebagaimana ia mengajari orang lain, demikianlah hendaknya ia berbuat. Setelah ia dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik, hendaklah ia melatih orang lain. Sesungguhnya amat sukar untuk mengendalikan diri sendiri.(DHAMMAPADA, syair 159) Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan, oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci. Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri. Tak seorangpun yang dapat mensucikan orang lain. (DHAMMAPADA, syair 165)
perayaan imlek 2558
Maret 1, 2007seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan imlek merupakan agenda rutin setiap insan etnis tionghoa di Indonesia. Misalnya di kota Samarinda, semua bersuka ria merayakan datangnya tahun baru imlek yang ke 2558. kenapa? karena ditahun baru kita diharapkan akan menjadi lebih dewasa dan lebih sukses dalam berkarya dan berkarir. bagi saya ada yang membedakan perayaan imlek kali ini dari tahun-tahun sebelumnya, imlek tahun ini tanpa kehadiran ayah disisi kami, karena sudah meninggal tahun lalu. perasaan sih sedih, tapi inilah hidup dan mungkin inilah kehendak sang Pencipta, dan memang inilah jalan yang harus aku tempuh. namun demikian, aku juga senang karena sekarang aku sudah punya warnet kecil di rumah saya, walau belum 100 persen rampung, tapi kalo cuma untuk nge blog, browsing, chating, dan email sih oke2 aja.
imlek tahun ini nggak beda jauh dengan imlek tahun lalu, terutama di kelenteng Thian Gie Kiong Samarinda. acara imlek hampir sama dengan acara sembahyang biasa, bedanya ada acara makan dengan undangan para tamu pejabat, terutama dari departemen agama, dan dri agama lain, pun juga dengan oaguyuban – paguyuban etnis tionghoa di samarinda. dan acaranya terkesan tidak begitu meriah, karena kalau boleh jujur dari pihak manajemen kelenteng Thian Gie Kiong sendiri, kurang begitu berani untuk membuat acara besar-besaran misal dengan adanya arak-arakan Toa Pe Kong ke jalanan. alahasil ya bisa dibayangkan, terkesan biasa-biasa saja tuh. bagaimana bisa memanjukan nama Thian Gie Kiong diatas begitu macam konflik internal dan konflik eksternal. Siapa yang bertanggung jawab atas kemandekan kelenteng? semoga tulisan saya bermanfaat.
Ditulis oleh jemmykosasih
Ditulis oleh jemmykosasih
Ditulis oleh jemmykosasih