Said Sutaji, 51, akhirnya berhasil memiliki rumah sendiri, setelah 20 tahun lebih mengontrak rumah kecil di kawasan Sawangan, Depok, dengan tarif Rp750.000 per bulan.
Penghasilannya sebagai pengemudi taksi paling tinggi Rp1,7 juta per bulan. Jauh dari cukup untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya. Tidak mu-dah buat Said menyisihkan uang untuk membangun rumah. Mendapatkan kredit dari bank atau lembaga keuangan lain, jelas tidak mungkin. Said bukanlah nasabah yang berprospek cerah bagi perbankan.
Namun, mulai 2006 lalu, Said berhasil memiliki rumah dengan dua kamar tidur, satu ruang tamu, dapur, dan kamar mandi. Rumah seluas 42 m2 itu dibangun secara gotong royong dengan 11 keluarga lainnya. Sebagian pendanaannya diperoleh dari Habitat for Humanity Indonesia.
“Waktu itu, saya punya tabungan Rp6 juta. Saya dan 11 teman lainnya membentuk kelompok, seperti arisan yang mengumpulkan uang atau bahan bangunan seadanya untuk membangun rumah kami. Kekurangan dana dibantu oleh teman-teman ini [Habitat for Humanity],” ujar Said.
Habitat for Humanity memang bukan bank yang aktif menyalurkan kredit. Komunitas ini juga bukan sinterklas yang membagi-bagikan dana secara cuma-cuma kepada Said atau orang-orang kurang mampu lainnya.
Namun, komunitas ini telah membantu pembangunan lebih dari 10.000 unit rumah bagi orang-orang yang hanya mampu berkutat dengan pemenuhan kebutuhan hidup minimal setiap harinya. Rumah-rumah itu tersebar di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Batam, dan Sulawesi Utara.
“Hingga 2009, kami menargetkan 25.000 keluarga bisa memiliki rumah. Ada sekitar 400 pihak yang mau bekerja sama dan memberikan sumbangan,” ujar Tri Budiardjo, Direktur Habitat for Humanity Indonesia, di sela-sela acara peluncuran Community Card kemarin.
Community Card itu merupakan hasil kerja sama dengan Krispy Kreme Doughnuts. Community Card ditawarkan dengan harga Rp50.000 dan akan didonasikan 100% untuk pembangunan rumah-rumah sederhana layak huni.
Tagihan lancar
Habitat for Humanity Indonesia memberikan pinjaman tambahan dana yang dibutuhkan orang-orang berpenghasilan minim untuk membangun rumah mereka. Bantuan dana yang diberikan mencapai hampir 70% dari total dana yang dibutuhkan.
Pedagang asongan, petani, buruh pabrik, atau sopir merupakan ‘nasabah’ utama Habitat for Humanity. Syarat utama, setidaknya mereka memiliki pendapatan Rp1,5 juta per bulan dan telah berkeluarga. Mereka mempunyai waktu empat tahun, setelah seluruh rumah dalam kelompoknya selesai dibangun, untuk mengembalikan dana itu.
“Kami tidak mengenal istilah bunga. Uang yang kami pinjamkan itu untuk bahan bangunan, dikembalikan lagi senilai harga bahan bangunan itu dua tahun kemudian. Dana itu akan digunakan membeli bahan bangunan lagi,” ujar Tri.
Tingkat pengembalian dana itu mencapai 86% dan hanya sebagian kecil yang macet. Namun, kredit macet itu bukan disebabkan oleh niat buruk orang-orang ‘kecil’ yang menjadi debitor.
“Yang default [gagal bayar] di bawah 5%. Itu karena pemutusan kontrak kerja mendadak. Tapi pada saat mereka mendapatkan kerja lagi, mereka langsung membayarnya,” kata Tri. (yeni.simanjuntak@bisnis.co.id)
Oleh Yeni H. Simanjuntak
Wartawan Bisnis Indonesia