panduan membeli pda buat pemula

Desember 22, 2007

dicontek dari ponselmania.com

Kalau diperhatikan saat ini makin banyak orang yang menggunakan
perangkat personal digital assistant (*PDA*), ada *PDA* untuk keperluan
pekerjaan sehari-hari, namun tidak sedikit yang memanfaatkannya untuk
keperluan hiburan dan lainnya.

Bagi mereka yang mulai berpikir untuk memiliki *PDA*, ada baiknya
mendengarkan masukan dari para pemakai *PDA* lainnya. Paling tidak agar
perangkat ini kemudian bisa dipakai secara optimal dan bukan sekadar
gagah-gagahan saja.

Tapi biasanya, jika sudah merasakan manfaat *PDA*, akan sulit
meninggalkannya. Ini misalnya diakui seorang pengguna *PDA*, Sabath
Dilpamaryo, yang sehari-hari bekerja di sebuah perusahaan swasta. *PDA*
dikatakannya amat membantu, terutama karena ada fitur Memo yang dapat
mencatat keperluan bisnis dan lainnya.

Menurut Sabath, saat ini terjadi persaingan antara *PDA* berbasis Palm
dan Windows lalu persaingan *PDA*-phone dan Smartphone. Sistem *PDA*
Palm umumnya dipakai oleh mereka yang sudah sejak dulu menggunakan
*PDA*. Sementara mereka yang baru kenal *PDA* biasanya cenderung melirik
Pocket PC alias sistem Windows. “Soalnya, Pocket PC mempunyai interface
yang mirip Windows di komputer. Jadi, lebih familiar,” ujar dia.

Persaingan antara *PDA*-phone dan Smartphone muncul ketika sejumlah
vendor ponsel mengeluarkan produk yang fitur-fiturnya mirip *PDA*. Tapi,
keduanya tetap berbeda dalam kemudahan pemakaian. “Untuk Smartphone,
fungsi teleponnya lebih mudah dipakai daripada fungsi *PDA*-nya. Hal
kebalikannya terjadi di *PDA*-phone,” tutur Sabath.

Orang melirik *PDA* juga karena harganya yang makin terjangkau. Sabath
yang juga berjualan *PDA* ini misalnya mengatakan harga *PDA* kelas
pemula (entry level) untuk sistem Palm berkisar Rp1,5 juta, sedangkan
sistem Pocket PC sedikit lebih mahal yaitu Rp2 juta.

Tidak heran kalau kemudian *PDA* dan Smartphone mulai tidak dianggap
sebagai barang mewah lagi. Kalau dulu penggunanya hanya pebisnis papan
atas, kini mahasiswa dan bahkan siswa SMU sudah mulai banyak yang
mengantongi *PDA*. “Khususnya untuk Smartphone bisa dipakai sebagai
sarana belajar. Fitur kamera misalnya untuk keperluan di laboratorium,
lalu fitur Menu untuk mencatat pelajaran dan seterusnya,” tutur Sabath
yang per bulannya bisa menjual antara 3-4 unit *PDA* ini.

Namun konsumen harus sadar kalau *PDA* tidak dapat melakukan input data
sendiri. Artinya, sang pemiliklah yang harus turun tangan dengan rajin
memasukkan data. Kalau misalnya takut kehilangan data penting, jangan
lupa misalnya untuk membuat cadangan data di komputer desktop atau notebook.

Sesuaikan pula ukuran *PDA* yang dipilih dengan kebiasaan bekerja. Bila
ukurannya terlalu besar, kita cenderung akan malas membawanya. Kalau
sudah demikian, fungsi *PDA* sebagai alat portabel berarti juga sudah
hilang.

Pemilihan *PDA* yang pertama bisa dimulai dari tipe low end. Maksudnya
apabila kemudian ternyata tidak cocok maka uang yang terbuang tidak
terlalu besar. Jangan malu untuk memulai dari *PDA* yang sederhana
karena yang penting adalah fitur dan fungsi dari perangkat tersebut.

Perlu tidaknya membeli *PDA* juga bisa dilihat dari buku agenda. Kalau
agenda kertas kita tidak terisi penuh berarti belumlah waktunya memiliki
*PDA* karena agenda kertas masih memenuhi kebutuhan. Lalu pekerja yang
sifat pekerjaannya rutin juga kurang memerlukan *PDA*. Pemilik *PDA*
harus suka mengeksplorasi karena dengan cara itu orang bisa mendapat
bantuan. Si pemilik baru berhasil memakainya bila nilai data yang
disimpannya melebihi harga perangkat keras *PDA* tersebut.

Pertimbangkan banyak aspek

Sebelum membeli *PDA*, pertimbangkan sejumlah aspek berikut. Misalnya
ukuran (hand-held vs palm-sized), cara memasukkan data (keyboard vs
stylus/layar sentuh), sistem operasi (Palm OS vs Pocket PC), displai,
memori, suplai daya (baterai sekali pakai vs baterai yang bisa diisi,
adaptor AC).

Faktor lain adalah soal sistem komunikasi seperti kabel (serial vs port
USB), infrared (IR), nirkabel dan modem telepon. Ada *PDA* yang juga
memiliki fitur istimewa semacam e-mail, pemutar MP3 serta pemutar MPEG.

Kemudian peranti lunak yang tersedia pada tiap *PDA* seperti personal
information management (PIM), spreadsheet, word processing, kalkulator,
pengenal suara, sinkronisasi data.

Sistem operasi termasuk faktor paling penting, ibarat kita harus memilih
antara komputer Apple Macintosh dan klon IBM PC. Palm OS lebih sedikit
memakan memori, bekerja lebih cepat dan lebih mudah dipakai. Sebaliknya
Pocket PC mendukung displai berwarna, paket Windows standar (Word,
Excel) dan perangkat lain (built-in pemutar MP3 dan MPEG). Namun, Pocket
PC memerlukan memori lebih besar, bekerja lebih lambat dan lebih rumit.

Karena *PDA* didesain untuk bekerja bersama komputer desktop atau
*laptop*, perlu ada informasi yang sama di antara keduanya. Kalau kita
menulis sesuatu di PC maka informasi ini perlu ditransfer ke *PDA* dan
sebaliknya. Komunikasi antara *PDA* dan PC ini disebut sinkronisasi data
atau “syncing”.

Sinkronisasi umumnya dilakukan melalui sebuah kabel serial atau port USB
pada *PDA*. Beberapa *PDA* memiliki semacam “tempat duduk”. Di tempat
itulah *PDA* diletakkan saat sinkronisasi ke komputer dilakukan.

Selain komunikasi memakai kabel, beberapa *PDA* memiliki port komunikasi
inframerah yang memakai cahaya inframerah untuk mengirim informasi ke
*PDA* lain atau ke komputer. Tentunya, komputer lawannya tersebut juga
harus memiliki port serupa.

Sejumlah *PDA* juga menawarkan metode nirkabel untuk mentransfer data
dari dan ke jaringan komputer. Belakangan ada *PDA* yang menawarkan
aksesori modem telepon untuk mentransfer file dari dan ke jaringan
komputer desktop. Jangan lupa meneliti tiap model, lihat apakah fitur
tersebut sudah menjadi standar atau masih perlu perangkat tambahan lagi.

Pemakaian *PDA* juga perlu mempertimbangkan baterai. Sejumlah model
memakai baterai alkalin (AAA), sedangkan lainnya memakai baterai yang
bisa diisi kembali (lithium, nickel-cadmium, nickel-metal hydride). Usia
baterai tergantung kepada sistem operasi (Pocket PC perlu lebih banyak
tenaga karena kebutuhan memori), jumlah memori, displai LCD berwarna
serta fitur khusus (perekam suara, pemutar MP3 atau koneksi nirkabel).

Untuk media penyimpanan, banyak pilihan bagi *PDA*. Ada yang memakai
CompactFlash, SmartMedia, Memory Stick, MultiMedia Cards sampai ke
Secure Digital. Masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan.
CompactFlash misalnya tergolong yang paling banyak digunakan karena
tidak mudah rusak dan butuh sedikit daya. Namun, ukurannya masih agak
besar bila dibandingkan dengan jenis MultiMedia Cards dan Secure Digital.

Kedua perangkat penyimpan terakhir tadi memang hanya seukuran prangko,
tapi bisa menyimpan data hingga beberapa megabytes. Walau demikian
karena masih baru maka Secure Digital masih dalam tahap perkenalan ke
konsumen.