Kurma, Penahan Lapar & Stroke

Oktober 19, 2007

KURMA ternyata mengandung rahasia medis yang positif. Sebuah situs internet mencatat, setiap butir kurma mengandung kekayaan gizi antara lain hidrat arang, serat, kalsium, potasium, dan zat besi. Ini dianggap sudah mampu mengganti energi.

Dalam penelitiannya, Dr. dr. Wahjooetomo mengatakan, selama berpuasa, perubahan kadar gula yang terjadi dalam tubuh ternyata sangat kecil. Karenanya, kandungan potasium dalam kurma sangat signifikan untuk mengatasi kelelahan.

Seratnya cocok untuk mengantisipasi sukar buang air besar. Sedangkan teksturnya yang halus itu cukup aman bagi lambung yang sensitif dan radang usus. Bukan hanya itu, kombinasi zat besi dan hidrat arang pada buah kurma sangat baik bagi penderita anemia dan lesu kronis.

Sementara itu, di tempat lain diketahui, makanan khas Timur Tengah tersebut pun bisa menurunkan risiko serangan stroke berkat tingginya kalium.

Memang buah-buahan dikenal sebagai sumber utama vitamin, khususnya C. Kandungan energi atau kalorinya pun rendah, sebab lemak yang dikandungnya juga rendah. Namun tidak berlaku bagi kurma. Kandungan lemak pada kurma juga bisa dikesampingkan. Namun, tingginya karbohidrat menyebabkan tersedianya energi. Bahkan boleh dikatakan lebih tinggi dibandingkan sebagian jenis buah lainnya.

Selain itu, kurma mempunyai zat penting bagi metabolisme tubuh, terutama organ jantung dan pembuluh darah, yaitu kalium. Fungsi mineral ini membuat organ jantung dan pembuluh darah berfungsi baik, plus kian mengaktifkan kontraksi otot, serta membantu mengatur tekanan darah.

Hanya dengan memakan buah kurma lima butir per hari, itu sudah memenuhi persyaratan untuk kesehatan tubuh. Para peneliti menyimpulkan dengan hanya makan satu porsi ekstra makanan kaya kalium (minimal 0,4 setiap hari) risiko fatal stroke bisa diturunkan sampai 40 persen.

Batas krisis 400 mg kalium itu, sangat mudah. Anda penuhi dengan makan kurma kering sekira 65 gram saja (ekuivalen 5 buah kurma). Sebaliknya, mereka dengan konsumsi kalium kurang dari 2 gram per hari mempunyai risiko stroke fatal jauh lebih tinggi ketimbang yang lain. Menurut Dr. Louis Tobian dari Minnesota University, kalium pun bisa memberikan atau menyuplai energi dalam mencegah stroke secara langsung, terlepas kondisi tensi saat itu.

Konsumsi ekstra kalium bisa menjaga dinding arteri tetap elastis dan normal, sehingga pembuluh darah tidak mudah rusak akibat tekanan darah.

“Jadi, jelas sudah, kurma menyimpan senjata potensial antistroke dan antiserangan jantung, meskipun masih memerlukan penelitian secara komprehensif demi memastikannya,” tuturnya.

Zat salisilat pun terkandung juga pada kurma. Seperti kita ketahui bahwa zat itu sering dipakai sebagai bahan baku aspirin : obat pengurang rasa sakit atau penghilang nyeri. Salisilat pun bisa memengaruhi prostaglandin (kelompok asam lemak hidroksida yang merangsang kontraksi otot polos sehingga menurunkan tekanan darah).

Ilmuwan lain selaku peneliti kurma dari aspek medis datang dari Jean Carper. Ia lewat karya tulisnya, “Your Miracle Medicine” menyoroti kurma mempunyai aktivitas seperti aspirin.

Kurma kering mempunyai kandungan aspirin alami sangat tinggi. Dalam beberapa macam buah seperti ceri, prune, dan kismis pun banyak mengandung kalium ikut beruntung karena mereka juga mengandung salisilat. Karenanya, para peneliti berharap, salisilat pada makanan seperti kurma bisa meredakan sakit kepala.

Menurut dr. Anwar El Mufti dari Mesir, kurma mengandung zat gula paling banyak yakni 70 persen serta umumnya sudah diolah alami. Karenanya, akomodatif bagi kesehatan. Sebagaimana zat gula pada buah lainnya, zat ini pada kurma mudah dicerna atau dibakar dalam tubuh sehingga menghasilkan tenaga besar. Dilihat dari proses penyerapan, zat gula pada kurma memang lain. Ia habis diserap bisa sampai pada menit ke-60 untuk jumlah tertentu. Hal yang sama terjadi dalam tempo setengahnya seperti teh manis. Karena itu, tidak perlu heran bila banyak ilmuwan mengatakan bahwa kurma bisa membuat kita lebih mampu tahan lapar. Sampai kini, masih banyak ilmuwan penasaran dengan misteri salisilat pada kurma.

Sementara itu, kita sebenarnya sangat mudah memperoleh kurma pada bulan suci Ramadan. Datangilah pasar-pasar, pusat perbelanjaan, atau bazar alias pasar murah, tentu banyak penjaja yang menawarkan kurma.

Kualitas kurma dan harganya, jelas berragam. Hal itu tergantung dari asal-usul kurma tersebut serta kemasannya. Karena, harga kurma yang dikemas dalam kardus dan dibungkus pelastik secara baik, akan berbeda dengan kurma kiloan atau kurma yang dikilo dan hanya dikemas oleh kantong pelastik.

Sungguh, kurma yang biasanya hanya dapat diperoleh di tanah suci bila ada rekan atau tetangga pulang dari ibadah haji, kini saat Ramadan banyak dijumpai kurma yang dijajakan para penjual. Untuk itulah, alangkah baiknya bila kita mengonsumi kurma saat Ramadan dan mungkin juga menyimpannya untuk persediaan kelak pascaRamadan. (Nasrul/Bahan: Swanet, Yahoogroups, Panasea, BB)***

sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/1005/13/syiar04.htm


Produsen Sepakat Kurangi Laba untuk Tekan Harga

Oktober 14, 2007

Jakarta, Kompas – Produsen minyak sawit mentah atau CPO dan minyak goreng sepakat mengurangi laba untuk menyubsidi harga minyak goreng di pasar dalam negeri. Kesepakatan sukarela ini diharapkan mampu mengendalikan harga minyak goreng dalam negeri dari Rp 8.000 menjadi Rp 6.500-Rp 6.800 per kilogram dalam sebulan.

“Produsen CPO dan minyak goreng sudah menyampaikan komitmennya untuk menjaga stabilitas pasar dalam negeri. Mereka mau mengorbankan marjin keuntungannya sehingga minyak goreng bisa dilepas dengan harga murah di tingkat pengecer,” kata Menteri Perindustrian Fahmi Idris di Jakarta, Selasa (5/1). Sebelumnya Fahmi dan Menteri Perdagangan (Menperdag) Mari Elka Pangestu mengadakan rapat tertutup dengan pengurus Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Asosiasi Industri Minyak Makan Indonesia (Aimmi), dan Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) di Departemen Perindustrian.

Rapat berlangsung selama 3 jam, dari semula dijawalkan hanya dua jam. Pemerintah memutuskan, produsen CPO dan minyak goreng harus menjamin pasokan kebutuhan konsumen.

Rapat juga menyepakati harga CPO untuk produksi minyak goreng dalam negeri Rp 5.700 per kilogram (kg) dengan marjin Rp 400, harga minyak goreng franko pabrik Rp 6.100, sehingga harga di tingkat pengecer Rp 6.500-Rp 6.800 per kg.

Total kebutuhan minyak goreng di Pulau Jawa berkisar 225.000-300.000 ton per bulan. Sebanyak 100.000 ton merupakan kebutuhan masyarakat.

Aimmi menekankan agar produsen CPO menjamin pasokan bahan baku untuk memenuhi kebutuhan pasar Pulau Jawa.

Dalam rapat, pemerintah mendata produsen mana saja yang menyatakan kesiapannya berkontribusi minyak goreng murah untuk rakyat.

Pemasok terbanyak adalah PT Perkebunan Nusantara III, IV, V, dan XIII dengan kontribusi 20.000 ton per bulan, lalu PT Smart Tbk sebanyak 10.000 ton, dan beberapa perusahaan lain berkisar 3.000-5.000 ton. Komitmen kontribusi produsen lainnya masih ditunggu sampai Rabu (2/5). Fahmi mengatakan, produsen yang berkontribusi maupun tidak, akan diumumkan kepada publik setiap minggu.

Presiden Komisaris Smart Franky Widjaja mengatakan, pihaknya mendukung keputusan pemerintah untuk menstabilkan harga minyak goreng nasional.

Sementara itu, Menperdag mengatakan, pemerintah tidak akan mengendalikan ekspor atau menaikkan pajak ekspor untuk menstabilkan harga minyak goreng. Opsi yang diambil hanya operasi pasar selama sebulan di Jakarta,

“Jika seluruh produsen turun tangan, kami berharap Mei ini harga minyak goreng curah sudah mencapai Rp 6.500 per kilogram,” kata Mari.

Departemen Pertanian memperkirakan produksi CPO 2007 mencapai 16,5 juta ton. Naik 500.000 ton dari tahun 2006. Sementara ekspor CPO tahun 2006 mencapai 12,1 juta ton dan 3,8 juta ton diserap pasar dalam negeri.

Pajak ekspor

Seusai rapat, seluruh peserta diterima Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla di Istana Wapres. Wapres mengancam akan menaikan pajak ekspor CPO dan turunannya jika produsen tidak sukarela memasok bahan baku untuk minyak goreng. Pajak eskpor untuk CPO saat ini sebesar 1,5 persen dari harga CPO. Sedangkan pajak eskpor untuk minyak goreng sebesar 03, persen.

Wapres juga meminta agar jumlah operasi pasar dinaikkan 112.500 ton minyak goreng.

untuk operasi pasar selama satu bulan agar dapat menurunkan harga minyak goreng sampai Rp 6.500-6.800 per kilo di lima kota, yaitu Jakarta, Surabaya, Semarang, Medan dan Makassar.

“Wapres menyatakan itu cocok. Namun, beliau minta ditambah lagi untuk operasi pasar menjadi 150.000 ton CPO atau sekitar 112.500 ton. Jika itu juga tidak tercapai, maka Wapres mengancam menaikan pajak eskpor CPO dan turunannya,” tandas Derom. (har/ham). source : kompas.com