to know the meaning of qingming

Maret 21, 2007

festival qingming hanzi tradisional: 清明節; sederhana: 清明节; pinyin: qīng míng jié) atau di Indonesia lebih dikenal sebagai Ceng Beng (bahasa Hokkien) adalah ritual tahunan etnis Tionghoa untuk bersembahyang dan ziarah ke kuburan sesuai dengan ajaran Khonghucu. Ceng Beng dianggap sama pentingnya dengan upacara sembahyang peringatan hari wafat orangtua dan luluhur. Di samping Imlek dan Cap Go Me, Ceng Beng adalah hari raya Tionghoa lainnya yang juga tidak pernah luput dirayakan, yang jatuh pada tiap tanggal 5 April.

Tradisi Ceng Beng melestarikan perintah Kaisar Chu Goan Chiang agar rakyatnya mencari dan membersihkan kuburan sanak keluarganya yang tak diketahui keberadaannya.

Ceng Beng diambil dari kata ceng (terang) dan beng (jernih). Karena hari tersebut musim semi di Tiongkok (Cina), maka merupakan kesempatan yang paling baik untuk mengunjungi thiong (pemakaman umum). Sembari membawa hio (dupa batangan untuk sembahyang), warga Tionghoa nyekar di bong (makam) untuk merayakan pertemuan dengan keluarga yang sudah meninggal.

Tiga hari sebelum ceng beng, makam-makam itu sudah harus dibersihkan. Rumput dan alang-alang dipotong, batu nisan dan bangunan sekelilingnya disikat bersih dengan air dan sabun. Pokoknya saat nyekar sudah harus bersih. Saat ini, karena pemakaman-pemakaman Tionghoa sudah banyak tergusur, mereka pergi ke ke tempat-tempat penitipan abu jenazah. Termasuk ke krematorium di pantai Dadap (perbatasan Jakarta-Tangerang) dan Cilincing. Namun, masih ada pula yang pergi ke pemakaman-pemakaman Tionghoa yang masih tersisa, seperti di Karawaci (Tangerang), Kebon Nanas (Jakarta Timur), Petamburan (Jakarta Pusat), dan Bogor.

Saat berziarah, warga Tionghoa membawa makanan berupa ketupat dan lepet, yang sudah dimasak dua hari sebelumnya. Sehari sebelum ceng beng merupakan hari bebas api. Selama sehari penuh di rumah-rumah tidak diperbolehkan ada api menyala. Tradisi ini punya kaitan dengan peristiwa di negeri leluhur Tiongkok.

Konon, kala itu ada seorang pangeran yang karena difitnah terpaksa meninggalkan istana. Selama pembuangan dan pengembaraan yang panjang, di antara pengikut pangeran itu terdapat seorang pembesar yang sangat setia. Begitu setianya pembesar ini hingga pernah memotong daging pahanya untuk santapan sang pangeran. Sayangnya, ketika pangeran kembali menjadi raja, Kai Cu Tai –nama pengikut setianya– terlupakan.

Raja yang kemudian diingatkan hal itu akhirnya mengerahkan rakyatnya untuk mencarinya. Karena tidak berhasil, ia pun memerintahkan untuk membakar hutan agar pengikut setianya itu keluar. Tragisnya, orang yang dicari-cari itu ditemukan dalam keadaan terpanggang sambil memeluk ibunya yang telah tua. Raja yang bersedih akhirnya memerintahkan rakyat untuk tidak menyalakan api sehari sebelum ceng beng, sebagai tanda duka. Karenanya, ceng beng juga disebut hari raya makan sajian dingin.

Sesuai kepercayaan mereka, keharusan mengunjungi makam leluhur di hari ceng beng merupakan wujud bakti seorang anak terhadap orang tua dan leluhurnya. Menurut ajaran Khonghucu, bakti ini harus diwujudkan selama mereka hidup dan sesudah meninggal. Bagi orang Tionghoa, bakti seorang anak terhadap orang tua/leluhur dianggap kebajikan paling utama.

Anak harus menghormati orang tua dan tidak mempermalukannya. Tidak terbatas pada generasi yang masih hidup tetapi juga nenek moyang yang sudah tiada. Anak yang berbakti (hua) –dalam versi mereka– dikasihi dan diberkati thian (Tuhan). Sebaliknya anak yang durhaka (put hau), dianggap sangat terkutuk karena melupakan jasa-jasa orang tua.

http://id.wikipedia.org/wiki/Festival_Qingming

ada juga dari versi berbeda dari http://www.freelists.org/archives/mahasathi/03-2004/msg00266.html

Setiap tanggal 4 atau 5 April, menurut tradisi Tionghoa,
adalah hari Cheng Beng (Mandarin: Qingming). Di mana menurut
tradisi Tionghoa, orang akan beramai-ramai pergi ke tempat
pemakaman orang tua atau para leluhurnya untuk melakukan upacara
penghormatan. Biasanya upacara penghormatan ini dilakukan dengan
berbagai jenis, misalnya saja membersihkan kuburan, menebarkan
kertas sampai dengan membakar kertas yang sering dikenal dengan
Gincua (mandarin: Yinzhi=kertas perak).

Cheng beng adalah salah satu dari 24 Jieqi yang ditentukan
berdasarkan posisi bumi terhadap matahari. Pada Kalender Gregorian
AWAL (bukan akhir!) Cheng beng jatuh pada tanggal 5 April atau 4
April. Bila kita artikan kata Cheng beng, maka Cheng berarti cerah
dan Beng artinya terang sehingga bila digabungkan maka Chengbeng
berarti terang dan cerah.

Saat Chengbeng ideal untuk berziarah dan membersihkan makam
karena cuaca yang bagus (cuaca cerah, langit terang). Apalagi pada
jaman dahulu lokasi pemakaman cukup jauh dari tempat
pemukiman.
Bahkan bila ada orang yang tinggal jauh dari kampung halamannya,
mereka akan berusaha untuk pulang ke kampung halamannya, khusus
untuk melakukan upacara penghormatan para luluhur.

Sejarah Cheng Beng

Sejarah Cheng beng dimulai sejak dulu kala dan sulit dilacak kapan
dimulainya. Pada dinasti Zhou, awalnya tradisi ini merupakan suatu
upacara yang berhubungan dengan musim dan pertanian
serta pertanda berakhirnya hawa dingin (bukan cuaca)
dan dimulainya hawa panas. Ada sebuah syair yang
menggambarkan bagaimana cheng beng itu yaitu: "Sehari
sebelum cheng beng tidak ada api" atau yang sering
disebut Hanshijie (han: dingin, shi: makanan, jie:
perayaan/festival).

Hanshijie adalah hari untuk memperingati Jie Zitui yang
tewas terbakar di gunung Mianshan. Jin Wengong (raja
muda negara Jin pada periode Chunqiu akhir dinasti
Zhou) memerintahkan rakyat untuk tidak menyalakan api
pada hari tewasnya Jie Zitui. Semua makanan dimakan
dalam kondisi dingin, sehingga disebut perayaan makanan
dingin.

Chengbeng lebih tepat jika dikatakan terjadi pada tengah
musim semi. Pertengahan musim semi (Chunfen) sendiri
jatuh pada tanggal 21 Maret, sedangkan awal musim
panas (Lixia) jatuh pada tanggal 6 Mei.
Sejak jaman dahulu hari cheng beng ini adalah hari untuk
menghormati leluhur. Pada dinasti Tang, hari cheng beng
ditetapkan sebagai hari wajib untuk para pejabat untuk
menghormati para leluhur yang telah meninggal, dengan
mengimplementasikannya berupa membersihkan kuburan
para leluhur, sembahyang dan lain-lain.

Di dinasti Tang ini, implementasi hari cheng beng hampir
sama dengan kegiatan sekarang, misalnya seperti
membakar uang-uangan, menggantung lembaran kertas
pada pohon Liu, sembayang dan membersihkan kuburan.
Yang hilang adalah menggantung lembaran kertas, yang
sebagai gantinya lembaran kertas itu ditaruh di atas
kuburan. Kebiasaan lainnya adalah bermain layang-layang,
makan telur, melukis telur dan mengukir kulit
telur.

Permainan layang-layang dilakukan pada saat Chengbeng
karena selain cuaca yang cerah dan langit yang terang,
kondisi angin sangat ideal untuk bermain layang-layang.
Sedangkan pohon Liu dihubungkan dengan Jie Zitui,
karena Jie Zitui tewas terbakar di bawah pohon liu.
Pada dinasti Song (960-1279) dimulai kebiasaan
menggantungkan gambar burung walet yang terbuat
tepung dan buah pohon liu di depan pintu. Gambar ini
disebut burung walet Zitui.

Kebiasaan orang-orang Tionghoa yang menaruh untaian
kertas panjang di kuburan dan menaruh kertas di atas
batu nisan itu dimulai sejak dinasti Ming.
Menurut cerita rakyat yang beredar, kebiasaan seperti
itu atas suruhan Zhu Yuanzhang, kaisar pendiri dinasti
Ming, untuk mencari kuburan ayahnya. Dikarenakan tidak
tahu letaknya, ia menyuruh seluruh rakyat untuk menaruh
kertas di batu nisan leluhurnya. Rakyatpun mematuhi
perintah tersebut, lalu ia mencari kuburan ayahnya yang
batu nisannya tidak ada kertas dan ia menemukannya.

Kenapa pada hari cheng beng itu harus membersihkan
kuburan?

Itu berkaitan dengan tumbuhnya semak belukar yang
dikawatirkan akar-akarnya akan merusak tanah kuburan
tersebut. Juga binatang-binatang akan bersarang di semak
tersebut sehingga dapat merusak kuburan itu juga.
Dikarenakan saat itu cuaca mulai menghangat, maka hari
itu dianggap hari yang cocok untuk membersihkan kuburan.
Selain cerita di atas, ada pula tradisi dimana jika orang
yang merantau itu ketika pulang pada saat cheng beng,
orang itu akan mengambil tanah tempat lahirnya dan
menaruh di kantong merah. Ketika orang tersebut tiba lagi
di tanah tempat ia merantau, ia akan menorehkan tanah
tersebut ke alas kakinya sebagai perlambang bahwa ia
tetap menginjak tanah leluhurnya.

Dhamma, antara tradisi dan ajaran

Sejak lahirnya apa yang disebut 'agama Buddha' dari ribuan
tahun yang lalu sampai sekarang, sudah berkembang dan
bercampur dengan tradisi setempat, sehingga sulit dikatakan
mana yang 'benar-benar' ajaran Sang Buddha dan mana
yang bukan.

Banyak orang Tionghoa masih melakukan tradisi secara
turun menurun seperti Cheng Beng. Dengan menyadari hal
ini, kita dituntut kebijaksanaan kita agar dapat membedakan
mana yang sebenarnya tradisi dan mana yang Ajaran
Buddha. Tetapi juga tidak salah kita tetap menjalankan
tradisi, yang penting kita harus tahu dan memilah-milah
antara tradisi dan agama Buddha.

Sang Buddha sendiri tidak menolak bila kita
mempertahankan tradisi yang sudah ada sejak turun
menurun, yang penting kita jalankan adalah untuk kebaikan
satu dan banyak orang.

Di dalam Sigalovada Sutta juga, Buddha sudah menjelaskan
bahwa salah satu cara menghormati leluhur adalah dengan
cara menjaga nama baik keluarga bahkan kalau bisa
semakin mengharumkan nama keluarga dan juga mengatur
pemberian sesaji (pelimpahan jasa-ed) kepada sanak
keluarga yang telah meninggal.

Nah, itu semua kembali tergantung kepada diri kita sendiri
bagaimana kita menjalankannya.
(dari berbagai sumber)

Buletin Maya Indonesia Dharma Mangala, 9 Maret 2004, tahun I, no 7
Petunjuk berlangganan :
Dharma_mangala-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

Semua artikel dapat diperbanyak tanpa ijin, namun
harus mencantumkan sumbernya.

****************
Sebagaimana ia mengajari orang lain, demikianlah hendaknya ia berbuat. Setelah
ia dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik, hendaklah ia melatih orang
lain. Sesungguhnya amat sukar untuk mengendalikan diri sendiri.(DHAMMAPADA,
syair 159)

Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan, oleh diri sendiri pula seseorang menjadi
suci. Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri. Tak seorangpun yang
dapat mensucikan orang lain. (DHAMMAPADA, syair 165)

pengalaman hidup tanpa tv

Maret 18, 2007

Ketika kami sekeluarga pindah ke Bintaro beberapa waktu yang lalu, momen ini kami manfaatkan untuk mencoba merasakan hidup tanpa televisi. Waktu di Birmingham sebetulnya juga sudah mulai mencoba eksperimen ini; TV masih ada, namun aksesnya sangat kami batasi. Hanya acara anak-anak, dan itu pun tertentu saja. Sebagai kompensasinya kami menyediakan berbagai activity kit/toys, pilihan film yang cukup banyak di video, dan satu komputer untuk setiap anak.

Kini kami ingin mencoba menghilangkan TV sama sekali dari rumah kami. Apa yang kemudian terjadi ?
Berikut ini adalah beberapa kesan yang kami rasakan dari eksperimen ini.

Keakraban antara anggota keluarga : Hubungan kami terasa menjadi lebih baik lagi. Tidak lagi ada kejadian anggota keluarga yang marah karena merasa terganggu ketika sedang menikmati acara TV favoritnya. Sering ada komunikasi yang hangat antara anggota keluarga. Anak-anak kami menjadi lebih dekat dan tidak ragu-ragu untuk menceritakan berbagai hal & curhat kepada kami.

Lebih banyak waktu bebas : Biasanya, setiap hari ada beberapa jam waktu di keluarga kami yang diambil oleh TV. Tidak terasa lama ketika itu, namun ketika TV menghilang, kami baru menyadari bagaimana satu hari jadi terasa lebih panjang. Jadi ada lebih banyak waktu untuk mengerjakan berbagai hal. Sehingga tidak perlu lagi terburu-buru mengerjakannya (dan tidak lagi mengalami berbagai masalah yang terjadi karena ketergesa-gesaan itu).

Rasa tenang : Hidup jadi terasa lebih tenang. Tidak lagi ada perasaan gelisah, seperti “aduh nih sinetron XX habis pas lagi tanggung! duh minggu depan lama amat, sudah gak sabar mau nonton lanjutannya nih!”.
Rasa tenang juga didapat dari kebebasan seperti tidak adanya rasa cemas takut lupa / terlewat acara favorit, dst.

Kreatif & aktif : Anak-anak kami terlihat menjadi lebih kreatif dan aktif. Mereka senang menjelajah lingkungannya bersama kawan-kawannya. Kebetulan lingkungan sekitar masih cukup asri dan masih banyak perkampungan di dekat cluster kami. Setiap anak kami sediakan sepedanya masing-masing.
Kreatifitas mereka juga menjadi lebih jelas. Sarah sudah berkali-kali membuat comic strip. Anisah ketika sakit justru asyik membuat kerajinan tangan untuk adiknya. Aminah (2 tahun) sangat senang menggambar. Hasil karya mereka semua sudah terlalu banyak dan ada beberapa yang jadi terpaksa kami buang (note to self: beli album & lemari untuk penyimpanan).

Kehilangan acara TV favorit ? Tadinya kami kira kami akan sangat kehilangan berbagai acara yang ada di TV. Tapi ternyata setelah melakoni ini, kami tidak merasa kehilangan apa pun. Tanpa terasa kami jadi bisa lebih menikmati berbagai hobi dan kegiatan yang tadinya sulit untuk dilakukan karena kekurangan waktu.
Kalau kami kebetulan sedang mampir ke rumah kakek & neneknya anak-anak kadang saya memang menonton Discovery channel, tapi santai saja dan tidak ada rasa kehilangan ketika kemudian kami kembali ke rumah kami sendiri – mungkin karena sudah ada sangat banyak situs-situs Internet (seperti DamnInteresting.com, HowStuffWorks.com, dll) yang tidak kalah menariknya.
Lagipula kini sudah mulai ada seperti AntaraTV.com – kita jadi bebas mau menonton yang kita mau; bukan apa yang kebetulan saat ini sedang ada di TV kita.

Hemat waktu & sakit kepala : Ada banyak acara televisi yang sangat tidak pantas untuk ditonton oleh anak-anak, namun tetap disiarkan pada waktu-waktu mereka bangun & berada di rumah. Ada kenalan kami yang rajin mengawasi acara yang ditonton anak-anaknya – namun luput beberapa kali saja, dan anak-anaknya langsung dapat menirukan berbagai contoh yang tidak baik dari acara-acara tersebut. Jadi tidak boleh luput sama sekali.
Kami tidak dipusingkan dengan hal-hal seperti ini, and can concentrate on things that matters instead.

Secara ringkas demikian. Sejauh ini kami merasa sangat puas, dan merencanakan untuk terus meniadakan TV dari rumah kami.

Beberapa catatan : Awalnya yang keberatan justru pembantu kami. Namun setelah kami komunikasikan dan beri pengertian, sekarang dia juga sudah senang saja tanpa TV sehari-harinya. Malah jadi bisa lebih sering bersosialisasi dengan kawan-kawannya.

Tentang komputer: sekarang komputer tidak lagi ada untuk setiap anak; karena dari pengalaman kami ini ternyata cenderung menjadikan anak egois. Dengan 2 komputer di rumah untuk 4 orang anak, mereka jadi terpaksa belajar berbagi dan bersabar.
Awalnya jelas mereka berkelahi dan ribut berebutan menggunakan komputer )
Tapi dengan trik jam, maka mereka jadi bisa bergilir – sekaligus jadi belajar membaca jam sejak usia dini. Trik jam adalah cara dimana mereka sendiri yang bersepakat mengenai jatah pemakaian komputer, contoh: “umar main sampai angka 6 ya, trus kakak sampai angka 9, lalu sarah sampai angka 12″.
Dengan ini, kita juga tidak pusing menengahi mereka, karena mereka bisa menyelesaikannya sendiri. Jadi juga sekaligus mengajari mereka untuk mandiri dan memiliki inisiatif.

Sekilasan

TV seperti pisau – dia adalah alat yang bisa sangat bermanfaat, atau sangat merusak. Pendapat kami pribadi, pada saat ini, kebanyakan TV di Indonesia lebih cenderung berdampak negatif. Dengan adanya alternatif seperti VCD, komputer, dan tentu saja lingkungan sekitar kita; maka sejauh ini kami tidak merasakan masalah dengan ketiadaan TV di rumah kami.

Demikian sekilas kesan kami, semoga ada manfaatnya.

source : harry sufehmi


love

Maret 18, 2007

Cinta itu seperti kupu-kupu.Tambah dikejar,
tambah lari.
Tapi kalau dibiarkan terbang, dia akan
datang di
saat kamu tidak mengharapkannya.
Cinta dapat membuatmu bahagia tapi
sering juga
bikin sedih.
Cinta baru berharga kalau diberikan
kepada
seseorang yang menghargainya.
Jadi jangan terburu-buru, dan pilihlah
yang
terbaik.

Cinta bukan bagaimana menjadi pasangan
yang “sempurna” bagi seseorang. Tapi
bagaimana
menemukan seseorang yang dapat
membantumu
menjadi dirimu sendiri. Dan karena itu
kamu
sempurna.

Jangan pernah bilang “I love you”
kalau kamu
tidak perduli.
Jangan pernah membicarakan perasaan
yang
tidak pernah ada.
Jangan pernah menyentuh hidup
seseorang kalau
hal itu akan menghancurkan hatinya.
Jangan pernah menatap matanya kalau
semua
yang kamu lakukan hanya kebohongan.

Hal paling kejam yang seseorang
lakukan kepada
orang lain adalah membiarkannya jatuh
cinta,
sementara kamu tidak berniat untuk
menangkapnya…

Cinta bukan, “Ini salah kamu”,
tapi “Ma’afkan
aku”. Bukan “Kamu di mana sih?”,
tapi “Aku
disini”. Bukan “Gimana sih kamu?”,
tapi “Aku
ngerti kok”. Bukan “Coba kamu gak
kayak gini”,
tapi “Aku cinta kamu seperti kamu apa
adanya”.

Kompatibilitas yang paling benar bukan
diukur
berdasarkan berapa lama kalian sudah
bersama
maupun berapa sering kalian bersama,
tapi
apakah
selama kalian bersama, kalian selalu
saling
mengisi satu sama lain dan saling
membuat hidup
yang berkualitas.

Kesedihan dan kerinduan hanya terasa
selama
yang kamu inginkan dan menyayat
sedalam yang
kamu izinkan. Yang berat bukan
bagaimana
caranya menanggulangi kesedihan dan
kerinduan
itu, tapi bagaimana belajar darinya.

Jatuh cintalah tanpa terhuyung-huyung,
konsisten
tapi jangan memaksa, berbagi dan
jangan bersikap
tidak adil, mengerti dan cobalah untuk
tidak
banyak menuntut, sedih tapi jangan
pernah
simpan kesedihan itu.
Memang sakit melihat orang yang kamu
cintai
sedang berbahagia dengan orang lain
tapi lebih
sakit lagi kalau orang yang kamu
cintai itu tidak
bahagia bersamamu.

Cinta akan menyakitkan ketika kamu
berpisah
dengan seseorang, lebih menyakitkan
apabila
kamu dilupakan oleh kekasihmu, tapi
cinta akan
lebih menyakitkan lagi apabila
seseorang yang
kamu sayangi tidak tahu apa yang
sesungguhnya
kamu rasakan.

Kata orang, cinta yang sejati adalah
ketika itu
tumbuh perlahan..
Cinta yang tidak hanya beralaskan
nafsu..
Cinta yang muncul karena kebersamaan

inspired women by yen2


perayaan imlek 2558

Maret 1, 2007

seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan imlek merupakan agenda rutin setiap insan etnis tionghoa di Indonesia. Misalnya di kota Samarinda, semua bersuka ria merayakan datangnya tahun baru imlek yang ke 2558. kenapa? karena ditahun baru kita diharapkan akan menjadi lebih dewasa dan lebih sukses dalam berkarya dan berkarir. bagi saya ada yang membedakan perayaan imlek kali ini dari tahun-tahun sebelumnya, imlek tahun ini tanpa kehadiran ayah disisi kami, karena sudah meninggal tahun lalu. perasaan sih sedih, tapi inilah hidup dan mungkin inilah kehendak sang Pencipta, dan memang inilah jalan yang harus aku tempuh. namun demikian, aku juga senang karena sekarang aku sudah punya warnet kecil di rumah saya, walau belum 100 persen rampung, tapi kalo cuma untuk nge blog, browsing, chating, dan email sih oke2 aja.

imlek tahun ini nggak beda jauh dengan imlek tahun lalu, terutama di kelenteng Thian Gie Kiong Samarinda. acara imlek hampir sama dengan acara sembahyang biasa, bedanya ada acara makan dengan undangan para tamu pejabat, terutama dari departemen agama, dan dri agama lain, pun juga dengan oaguyuban – paguyuban etnis tionghoa di samarinda. dan acaranya terkesan tidak begitu meriah, karena kalau boleh jujur dari pihak manajemen kelenteng Thian Gie Kiong sendiri, kurang begitu berani untuk membuat acara besar-besaran misal dengan adanya arak-arakan Toa Pe Kong ke jalanan. alahasil ya bisa dibayangkan, terkesan biasa-biasa saja tuh. bagaimana bisa memanjukan nama Thian Gie Kiong diatas begitu macam konflik internal dan konflik eksternal. Siapa yang bertanggung jawab atas kemandekan kelenteng? semoga tulisan saya bermanfaat.