linux sistem operasi yang bikin “ketagihan”

November 9, 2009

berawal dari pc ku yang sering hang yang waktu itu di instal windows xp, entah itu software atau kipas procesor yang kurang genah. setelah diutak-atik sama temen yang ngerti linux, eh…malah waktu untuk komputer jadi nambah lantaran banyak fitur yang banyak dan nggak terdapat di windows xp. saat ini penulis menggunakan sistem operasi linux ubuntu yang bisa di download di www.ubuntu.com . mungkin karena penulis memang newbie jadinya pas download linux nggak bisa jalan, tapi nggak apalah, mungkin rejekinya temen saya yang nginstalin pc p4 ku dengan spesifikasi p4 3 ghz, ram 1 ghz, hd 40 gb, dan di support modem usb wifi dari sierra compass seri 885. kendala teknis linux adalah pada hardware yang kadang belum terdeteksi oleh sistem operasi, maklum sistem operasi linux sifatnya non profit, jadi si pengembang yang nguber hardware, bukan vendor hardware yang nguber sistem operasi. sampai saat ini penulis belum pernah mengalami gangguan teknis akibat hang atau sistem trouble yang biasa sering terjadi di windows. satu perbedaan yang menonjol adalah windows menjadi bulan-bulanan para pembuat virus dan sejenisnya, tapi linux yang saya pake sekarang tanpa saya pasangi antivirus pun sudah relatif aman, apalagi kalo dipasangi antivirus. saran penulis untuk para pengguna windows untuk beralih ke sistem operasi linux dengan catatan didampingi ahli linux, jangan sekali-kali install sendiri tanpa didampingi ahlinya, bisa pusing sendiri kalo ada trouble. selamat mencicipi linux ubuntu terbaru versi 9.10 karmic koala. just believe in yourself !!!


ym di pda ipaq 6515

Desember 29, 2008

yahoo messenger saat ini terpopuler di Indonesia unruk chating, tapi dari pihak yahoo sendiri tidak menyediakan layanan ym di hape secara real time,jadinya seperti hape saya tidak bisa connect secara langsung seperti ym yang ada di pc. setelah gogling gogling ya ada beberapa messenger yang bisa jadi referensi, nimbuzz dan palringo,tapi dua dua nya nggak kompatibel, setelah ketemu slick baru bisa,itupun instalnya lewat pc yang sudah dipasangi active sync biar bisa konek sama pda. dan sekarang ok.


telkomflash banting harga

Oktober 5, 2008

seiring berjalanna waktu ,kini internet di Indonesia makin murah saja. telkomsel sebagai provider telepon seluler yang memiliki user paling banyak (50 juta user menurut iklan di grapari telkomsel),itu sama dengan 1/4 dari jumlah penduduk Indonesia,banyaknya tower yang terpasang dan diklaim memiliki sinyal sampai di setiap kabupaten dan kecamatan di seluruh Indonesia membuat penetrasi informasi dan teknologi bisa merata dari sabang sampai merauke. penulis saat ini memakai telkomsel flash pre paid rp.5.000,- quota dikasi 5 mb ,expire date 7 hari. jika kamu punya pda seperti penulis (ipaq 6515 yg dibeli dari www.ponseljakarta.com harga seken dibawah 2jt) sudah bisa nelpon dan internetan,klo di negara maju ipaq 6515 mendukung global posotion system (gps).cukup lengkap feature dan pas buat kita yang memang memerlukan (bukan untuk pamer dan gaya-gayaan).
jika kamu punya kartu simpati atau as km kudu bawa hape kamu ke grapari terdekat buat tanya gmn aktivasi gprs,nah klo sdh aktif baru bisa beli pulsa telkom flash,caranya ketik flash on 5000 kirim sms ke 3636 dan ikuti petunjuk dari telkomsel. klo mau aktifasi gprs juga bisa pake sms,caranya ketik gprs kirim ke 6616,tp biasanya klo ngk ke grapari kagak bisa konek,tp dicoba aja apa salahnya. mudah-mudahan internet bisa semakin murah dan lama-lama gratis. bisa saja gratis,dengan mekanisme income dari iklan seperti tv swasta bisa saja membiayai operasional perusahaan dan bahkan mendapatkan return of investment lebih cepat karena jumlah pembelian pulsa dari user yang banyak. maju terus teknologi indonesia.


telkomsel flash vs telkom speedy

September 22, 2008

seperti kejadian sebelumnya yang terkesan jeruk makan jeruk, ketika tarif telpon makin mahal, telkom fleksi malah adu murah se indonesia pula. ini juga gitu, telkom speedy yang katanya paling murah dan stand alone (tidak mobile) bakalan digilas sama telkom flash yang mobile dan kecepatan setara speedy, bahkan tidak menutup kemungkinan untuk layanan unlimitednya bisa lebih murah flash, aku coba layanan flash via gprs, dengan cara mengetik (Flash On 5000) sudah bisa akses internet murah di ipaq 6515 ku yang bisa dipake untuk monitoring bursa di malaysia,dulu sebelum pake flash tarifnya Rp.12 /kb bisa di cek di http://www.telkomsel.com/web/gprs_tarif   .tapi setelah pake flash tarifnya Rp.1 /kb atau 12 kali lebih murah dari tarif gprs sebelum kirim sms ke 3636 dengan mengetik Flash On 5000. itupun ada promo offering diskon 50 persen, jadi bayarnya cuma 2500 dapet 5 mb untuk pemakaian seminggu, lumayanlah buat pda ku sudah cukup. thanks telkomsel.

nb : banyak layanan gprs murah seperti xl dan im3, tapi aku jamin qos (qulity of service) nya masih lebih baik telkomsel. perlu bukti ?


Kartu As: Rp20/ SMS, Telepon Rp6,5/ detik

Juli 7, 2008

JAKARTA - SMS Murah dari kartu As kali ini akan diberikan untuk layanan ke semua operator dengan program Paket SMS Mania Rp1000 untuk 50 SMS. Selain itu ada juga panggilan hemat ke semua operator hanya Rp6,5 per detik.

Paket SMS Mania memberikan pilihan bagi para pelanggan yang hobi ber-sms. Cukup mengakses *899# langsung dari ponsel maka akan tersedia beberapa paket SMS. Paket harian Rp1000 untuk 50 SMS berlaku di hari yang sama sejak pukul 00.00 hingga 18.00. Paket mingguan Rp5000 untuk 100 SMS berlaku lima hari, serta paket bulanan Rp25.000 untuk 600 SMS yang berlaku selama 30 hari. Paket SMS mania ini berlaku hingga 30 September 2008.

Untuk panggilan ke seluruh operator, Kartu As juga memberlakukan tarif yang makin murah yakni hanya Rp6,5 per detik yang berlaku pukul 05.00 hingga 17.00. Selanjutnya pukul 17.00 hingga 05.00 dikenakan tarif hemat sebelumnya, yakni Rp13/ detik. Tarif dapat langsung dinikmati seluruh pelanggan Kartu As dari detik pertama tanpa perlu registrasi maupun kartu khusus dan berlaku hingga 31 Agustus 2008.

“Program ini merupakan bentuk apresiasi kami kepada seluruh pengguna kartu As. Kami harap Kartu As dapat memberikan penghematan yang signifikan dalam anggaran komunikasi pelanggan, khususnya musim liburan sekolah dan persiapan tahun ajaran baru,” ujar VP Marketing dan CRM Telkomsel Hendri Mulya Sjam melalui keterangan resminya di Jakarta, Senin (7/7/2008).

Menurut Hendri saat ini Kartu As telah digunakan oleh 22 juta pelanggan seluler di Indonesia dengan kontribusi sekira 60 persennya merupakan pelanggan yang berada di area luar jawa. Kartu As memang identik dengan layanan SMS murah. Bahkan kontribusi SMS dari kartu As mengalami peningkatan 10 hingga 15 persen dalam revenue Telkomsel tahun kemarin. Namun dengan adanya promosi yang sama murah di dua layanan, SMS dan telepon, membuat pelanggan kartu As berkesempatan untuk mendapatkan kedua layanan tersebut dengan tarif murah.

Bahkan melengkapi program ini, pelanggan kartu As juga berkesempatan menikmati komunikasi murah lewat layana kartu As Chatbox, yakni chatting sepuasnya hanya dengan paket Rp9900 per bulan, tanpa harus pusing memikirkan biaya akses datanya.(cdr) (srn)

http://techno.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/07/07/54/125363/kartu-as-rp20-sms-telepon-rp6-5-detik


Singkong dan Bisnis Minyak Rakyat

Juni 22, 2008

Wahyudin Munawir
Anggota Komisi VII DPR RI, Alumnus ITB

Republika, Rabu, 05 Desember 2007

Harga minyak dunia yang melambung, sudah lama diprediksi. Logikanya, minyak bumi (fossil fuel) adalah bahan bakar yang tak dapat diperbarui. Cepat atau lambat, minyak dunia akan habis. Saat ini, harga minyak memang sedang booming karena kebutuhan negara-negara industri baru seperti India dan Cina sangat tinggi.
Ke depan, jika negara-negara di dunia tak segera mengantisipasi kelangkaan fossil fuel, harga minyak akan naik tinggi sekali. Tapi sebaliknya, jika negara-negara di dunia menyiapkan antisipasinya sejak sekarang, niscaya harga minyak tak akan naik lagi, bahkan bisa turun. Mengapa? Karena dunia nantinya bisa mencari pengganti minyak fosil yang aman, murah, dan mudah diproduksi oleh siapa pun. Saat ini, industri minyak hanya dipegang oleh para pemodal besar.

Biofuel dari Sukabumi
Majalah Trubus edisi November 2007 memaparkan ‘kebun-kebun penghasil bensin di Pulau Jawa’. Di wilayah Sukabumi, misalnya, ternyata sudah muncul industri rumahan biofuel yang sederhana. Pak Soekani dari kampung Nyangkowek, Kecamatan Cicurug, Sukabumi, salah seorang warga yang memproduksi ‘bensin’ itu. Tiap bulan dia berhasil mengolah singkong menjadi etanol (alkohol) 95 persen sebanyak 2.100 liter.

Dari jumlah itu, 300 liter dijual ke pengecer premium, dan 800 liter lainnya dijual ke industri kimia. Harga per liter etanol itu, Rp 10 ribu. Tiap liter etanol dibuat dari 6,5 kg singkong. Harga produksi etanol per liter Rp 3.400-Rp 4.000. Dari bisnis ‘energi’ yang berasal dari singkong itu, Pak Soekani mendapatkan omzet 21 juta per bulan. Langkah Pak Soekani itu, kini mulai banyak diikuti penduduk desa lainnya.

Mungkin anda bertanya, mengapa pengecer premium mau membeli etanol made in Pak Soekani seharga Rp 10 ribu per liter? Ternyata, pasar itu tercipta dari pengalaman tukang ojek di Cicurug. Premium yang dicampur 5-10 persen alkohol, angka oktannya naik. Kendaraan makin bertenaga dan bahan bakarnya makin hemat 20-30 persen. Belakangan, di Sukabumi juga sudah ada orang yang membuat kompor berbahan bakar alkohol. Kompor jenis ini, konon, lebih irit.

Kisah Pak Soekani menggambarkan bahwa bisnis biofuel tidak seperi fossil fuel (dalam hal ini BBM), bisa dilakukan siapa saja, bahkan dengan skala rumahan dan kaki lima. Karena itu, ke depan, jika pemerintah dan masyarakat ramai-ramai mengembangkan biofuel, niscaya kesejahteraan di Indonesia akan makin merata. Tak hanya itu, lahan-lahan kosong pun akan menghijau.

Memang ada kekhawatiran bahwa kebun-kebun biofuel itu akan merusak lingkungan dan keanekaragaman jenis di Indonesia. Namun jika sejak awal pemerintah membuat peta pengembangan industri biofuel secara nasional, niscaya kekhawatiran tersebut bisa direduksi. Ini karena pada peta tersebut akan ditunjukkan daerah-daerah yang pas untuk mengembangkan biofuel jenis tertentu.

Peluang bisnis biofuel di dunia sangat besar. Berdasarkan laporan Clean Edge seperti dikutip buku The Clean Tech Revolution (2007) karya Ron Pernick dan Clint Wilder, pasar biofuel di dunia tahun 2006 mencapai 20,5 miliar dolar AS (untuk etanol dan biodisel). Nilai pasar itu akan meningkat empat kali lipat pada tahun 2016. Di AS, etanol dicampur dengan gasoline (premium) dengan kadar campuran 2-85 persen. Di Brazil, sudah diproduksi mesin-mesin yang bisa memakai etanol seluruhnya (100 persen). Namun demikian, kondisi pasar etanol di Brazil sangat fleksibel. Jika harga BBM tinggi sekali, maka campuran etanol pada premium diperbesar, dan sebaliknya.

Tahun 2006, produksi etanol di dunia mencapai 12 miliar galon. Di AS, campuran premium dan 10 persen etanol (E-10) dipakai mobil-mobil tanpa modifikasi mesin. Sedangkan untuk campuran 85 persen etanol (E-85), mesinnya dimodifikasi dengan flex-fuel vehicle (FFVs). Jika produksi etanol di dunia makin besar dan kendaraan di dunia sudah pro-biofuel, niscaya semua kendaraan di muka bumi akan memakainya. Jika sudah demikian, ‘emas hitam’ yang berasal dari kilang-kilang minyak di Timur Tengah akan bergeser ke ‘emas hijau’ yang berasal dari kebun-kebun minyak di daerah tropis seperti Asia dan Amerika Latin.

Pemerataan ekonomi
Setiap ada ancaman, pasti ada peluang. Harga minyak yang mahal jangan hanya dilihat sebagai ancaman, melainkan juga peluang. Peluang ini bisa menyadarkan seluruh komponen masyarakat Indonesia bahwa ketergantungan pada BBM adalah sangat berbahaya dan kita punya kesempatan besar untuk mengkonversi BBM ke biofuel. Tanah Indonesia yang subur merupakan aset untuk membangun kemandirian sumber energi terbarukan. AS dan Eropa juga Jepang dan Cina saat ini tengah bahu membahu mengganti ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Pemerintah Indonesia juga sudah seharusnya berpikir jauh ke sana dan langsung mengimplementasikannya ke dalam sistem kerja yang terencana dan terpadu untuk menyongsong kemandirian energi ramah lingkungan ini. AS, misalnya, sudah mulai melaksanakan program untuk menyongsong program tahun 2017, di mana 20 persen bahan bakarnya berasal dari tanaman. Ini artinya, setiap hari di tahun 2017, AS akan membutuhkan lebih dari 8 juta barel biofue. Program ini jelas sangat raksasa dan AS sudah bertekad melaksanakannya.

Nah, bagaimana Indonesia? Pak Soekani di kampung Nyangkowek, Cicurug sudah memulainya. Hanya dengan singkong, Pak Soekani bisa memproduksi ‘bensin’ masa depan. Padahal singkong adalah tanaman yang amat akrab dengan masyarakat Indonesia. Singkong bisa ditanam di mana saja. Di kampung-kampung, singkong bisa ditanam di samping, depan, dan belakang rumah. Daunnya bisa dijadikan sayuran yang amat bergizi, sedang umbinya adalah bahan untuk membuat etanol yang baik.

Bila ditanam secara serius, dalam satu hektare dapat dihasilkan 100 ton, bahkan 150 ton singkong. Luar biasa bukan? Di masa depan, anak singkong bukan lagi menjadi hinaan, sebaliknya akan jadi pujaan. Ini karena singkong, bukan sekadar makanan sehat yang antidiabet, tapi juga penyelamat krisis energi nasional di masa depan.

*Kebun Penghasil Bensin*

Oleh admin Rabu, 31 Oktober 2007 21:15:23 /

Bangunan di tepi jalan alternatif ke kota Sukabumi itu tersembunyi di antara kebun singkong. Tak ada yang mengira di gedung 3 kali lapangan voli itu Soekaeni mengolah umbi singkong menjadi 2.100 liter bioetanol setiap bulan. Dari jumlah itu 300 liter dijual ke pengecer premium dan 800 liter ke pengepul industri kimia. Harga jual untuk kedua konsumen itu sama: Rp10.000 per liter, sehingga pensiunan PT Telkom itu meraup omzet Rp21-juta per bulan. / /Bangunan di tepi jalan alternatif ke kota Sukabumi itu tersembunyi di antara kebun singkong. Tak ada yang mengira di gedung 3 kali lapangan voli itu Soekaeni mengolah umbi singkong menjadi 2.100 liter bioetanol setiap bulan. Dari jumlah itu 300 liter dijual ke pengecer premium dan 800 liter ke pengepul industri kimia. Harga jual untuk kedua konsumen itu sama: Rp10.000 per liter, sehingga pensiunan PT Telkom itu meraup omzet Rp21-juta per bulan. / Biaya untuk memproduksi seliter bioetanol berbahan baku singkong berkisar Rp3.400- Rp4.000. Satu liter bioetanol terbuat dari 6,5 kg singkong. Dari perniagaan bioetanol pria kelahiran 6 September 1950 itu meraup laba bersih Rp12-juta per bulan. Selain singkong, sekarang ia juga memanfaatkan molase alias limbah tetes tebu sebagai bahan baku. Bioetanol produksi Soekaeni itulah yang dimanfaatkan sebagai campuran premium oleh para tukang ojek di Nyangkowek, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, untuk bahan bakar kendaraan bermotor. Satu liter premium diberi campuran 0,1 liter bioetanol. Meski harganya lebih mahal ketimbang premium, mereka tetap membelinya karena kinerja mesin lebih bagus dan konsumsi bahan bakar lebih hemat. Setahun terakhir popularitas bioetanol alias etanol yang diproses dari tumbuhan dan biodiesel atau minyak untuk mesin diesel dari tanaman memang meningkat. Keduanya-bioetanol dan biodiesel-merupakan bahan bakar nabati. Bersamaan dengan tren itu, bermunculan produsen bioetanol skala rumahan. Menurut Eka Bukit, produsen bioetanol, kriteria skala rumahan bila produksi maksimal 10.000 liter per hari. Saat ini volume produksi skala rumahan beragam, dari 30 liter hingga 2.000 liter per hari. Selain Soekaeni di Cicurug, Sukabumi, masih ada Sugimin Sumoatmojo. Warga Bekonang, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, itu mengolah 1.500 molase alias limbah pabrik gula menjadi 500 liter bioetanol per hari. Untuk menghasilkan 1 liter bioetanol pria kelahiran 31 Desember 1947 itu memerlukan 3 liter molase. Ia mengutip laba Rp2.500 per liter sehingga keuntungan bersih mencapai Rp1.250.000 per hari. Selama sebulan, mesin bekerja rata-rata 30 hari. Dengan demikian total jenderal volume produksi mencapai 15.000 liter yang memberikan untung bersih Rp37,5-juta per bulan. Di Bekonang dan sekitarnya, produsen bioetanol skala rumahan menjamur. Menurut Sabaryono, ketua Paguyuban Perajin Bioetanol Sukoharjo, total produsen mencapai 145 orang. /*Bahan berlimpah*/ Daftar produsen bioetanol skala rumahan kian panjang jika ditulis satu per satu. Mereka bertebaran di Sukoharjo, Pati, (Jawa Tengah), Natar (Lampung), Sukabumi (Jawa Barat), Minahasa (Sulawesi Utara), dan Cilegon (Banten). Para produsen kecil itu mengendus peluang bisnis bioetanol. Harap mafhum, bahan baku melimpah, proses produksi relatif mudah, dan pasar terbentang menjadi daya tarik bagi mereka. Menurut Dr Arif Yudiarto, periset bioetanol di Balai Besar Teknologi Pati, ada 3 kelompok tanaman sumber bioetanol. Ketiganya adalah tanaman mengandung pati, bergula, dan serat selulosa. Beberapa tanaman yang sohor sebagai penghasil bioetanol adalah aren dengan potensi produksi 40.000 liter per ha per tahun, jagung (6.000 liter), singkong (2.000 liter), biji sorgum (4.000 liter), jerami padi, dan ubijalar (7.800 liter). Pada prinsipnya pembuatan bioetanol melalui fermentasi untuk memecah protein dan destilasi alias penyulingan yang relatif mudah sehingga gampang diterapkan. Berbeda dengan proses produksi biodiesel yang harus melampaui teknologi esterifikasi dan transesterifikasi. Apalagi sebetulnya bioetanol bukan barang baru bagi masyarakat Indonesia. Pada zaman kerajaan Singosari-700 tahun silam-masyarakat Jawa sudah mengenal ciu alias bioetanol dari tetes tebu. Itu berkat tentara Kubilai Khan yang mengajarkan proses produksi. Lalu pasar? Eka Bukit yang mengolah nira aren kewalahan melayani permintaan bertubi-tubi. Setidaknya 275.000 liter permintaan rutin per bulan tak mampu ia pasok. Permintaan itu datang dari industri farmasi dan kimia. ‘Pasarnya luar biasa besar,’ ujar alumnus Carlton University itu. Oleh karena itu Eka tengah membangun pabrik pengolahan bioetanol di Kabupaten Lebak, Banten. Menurut Indra Winarno, direktur PT Molindo Raya Industrial produsen di Malang, Jawa Timur, permintaan etanol, ‘Tak terbatas.’ /*Pasok langsung*/ Sebagai substitusi bahan bakar premium, permintaan bioetanol sangat tinggi. Mari berhitung, ‘Kebutuhan bensin nasional mencapai 17,5- miliar per tahun,’ ujar Ir Yuttie Nurianti, manajer Pengembangan Produk Baru Pertamina. Yuttie menuturkan 30% dari total kebutuhan itu impor. Seperti diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah No 5/2006 dalam kurun 2007-2010, pemerintah menargetkan mengganti 1,48-miliar liter bensin dengan bioetanol lantaran kian menipisnya cadangan minyak bumi. Persentase itu bakal meningkat menjadi 10% pada 2011-2015, dan 15% pada 2016-2025. Pada kurun pertama 2007-2010 selama 3 tahun pemerintah memerlukan rata-rata 30.833.000 liter bioetanol per bulan. Dari total kebutuhan itu cuma 137.000 liter bioetanol setiap bulan yang terpenuhi atau 0,4%. Itu berarti setiap bulan pemerintah kekurangan pasokan 30.696.000 liter bioetanol untuk bahan bakar. Pangsa pasar yang sangat besar belum terpenuhi lantaran saat ini baru PT Molindo Raya Industrial yang memasok Pertamina. Dari produksi 150.000 liter, Molindo memasok 15.000 liter per hari. Molindo menjual biopremium melalui Pertamina Rp5.000 per liter. Mungkinkah produsen skala rumahan memasok Pertamina? Kepada wartawan /Trubus/ Imam Wiguna, Yuttie mengatakan, ‘Pertamina menerima berapa pun pasokan bioetanol dari pihak swasta. Yang penting memenuhi syarat.’ Syarat yang dimaksud sang manajer adalah berkadar etanol minimal 99,5%. Rata-rata bioetanol hasil sulingan produsen skala rumahan berkadar 90-95%. Agar syarat itu tercapai, produsen dapat mencelupkan penyerap seperti batu gamping dan zeolit sehingga kadar etanol melonjak signifikan (baca: /Bioetanol 99,5% Murnikan Saja dengan Gamping/ halaman 24-25). Selain itu, pemasok harus mengantongi izin usaha niaga bahan bakar nabati dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Ketua Tim Nasional Bahan Bakar Nabati Ir Alhilal Hamdi berupaya agar hubungan Pertamina-produsen skala kecil terjalin dengan mudah. ‘Kami akan memfasilitasi agar tercipta mekanisme paling mudah bagi industri kecil yang memasok Pertamina tanpa perantara. Perantara itu kan biaya. Atau bisa juga langsung dikirim ke SPBU karena jaringan Pertamina luas,’ ujar mantan menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi itu (baca: Produsen Boleh Oplos Bioetanol halaman 18). Tentang harga beli, Yuttie mengatakan, ‘Harga beli yang ditawarkan produsen harus kompetitif.’ Saat ini Pertamina membeli 1 liter bioetanol Rp5.000. Toh, produsen skala rumahan pun diberi kesempatan mengoplos alias mencampur bioetanol dan premium sendiri untuk dipasarkan. Produsen yang mengoplos tak perlu takut dicokok aparat karena memang dilindungi undang-undang. Yang menggembirakan bioetanol untuk bahan bakar bebas cukai. Itu bukti bahwa pemerintah memang serius mengembangkan bioetanol sebagai sumber energi terbarukan. /*Langit biru*/ Penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar juga berdampak positif. Banyak riset sahih yang membuktikannya. Dr Prawoto kepala Balai Termodinamika, Motor, dan Propulsi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, misalnya, membuktikan kinerja mesin kian bagus setelah diberi campuran bioetanol. Riset serupa ditempuh oleh Prof Dr Ir H Djoko Sungkono dari Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Hasil penelitian Prawoto menunjukkan, dengan campuran bioetanol konsumsi bahan bakar semakin efisien. Mobil E20 alias yang diberi campuran bioetanol 20%, pada kecepatan 30 km per jam, konsumsi bahan bakar 20% lebih irit ketimbang mobil berbahan bakar bensin. Jika kecepatan 80 km per jam, konsumsi bahan bakar 50% lebih irit. Duduk perkaranya? Pembakaran makin efisien karena etanol lebih cepat terbakar ketimbang bensin murni. Pantas semakin banyak campuran bioetanol, proses pembakaran kian singkat. Pembakaran sempurna itu gara-gara bilangan oktan bioetanol lebih tinggi daripada bensin. Nilai oktan bensin cuma 87-88; bioetanol 117. Bila kedua bahan itu bercampur, meningkatkan nilai oktan. Contoh penambahan 3% bioetanol mendongkrak nilai oktan 0,87. ‘Kadar 5% etanol meningkatkan 92 oktan menjadi 94 oktan,’ ujar Sungkono, alumnus University of New South Wales Sydney. Makin tinggi bilangan oktan, bahan bakar makin tahan untuk tidak terbakar sendiri sehingga menghasilkan kestabilan proses pembakaran untuk memperoleh daya yang lebih stabil. Campuran bioetanol 3% saja, mampu menurunkan emisi karbonmonoksida menjadi hanya 1,35%. Bandingkan bila kendaraan memanfaatkan premium, emisi senyawa karsinogenik alias penyebab kanker itu 4,51%. Nah, ketika kadar bioetanol ditingkatkan, emisi itu makin turun. Program langit biru yang dicanangkan pemerintah pun lebih mudah diwujudkan. Dampaknya, masyarakat kian sehat. Saat ini campuran bioetanol dalam premium untuk mobil konvensional maksimal 10% atau E10. Bahkan di Brasil, mobil konvensional menggunakan E20 alias campuran bioetanol 20% tanpa memodifikasi mesin. Penggunaan E100 atau E80 pada mobil konvensional tanpa modifikasi mesin tidak disarankan karena khawatir merusak mesin. Namun, kini muncul flexi car alias kendaraan fleksibel yang dapat menggunakan bioetanol hingga 100% atau premium 100% pada waktu yang lain. Di Amerika Serikat saat ini terdapat 5-juta flexi car dengan penambahan 1- juta kendaraan per tahun. /*Berebut bahan */ Meski banyak keistimewaan, bisnis bioetanol bukannya tanpa hambatan. Salah satu aral penghadang bisnis itu adalah terbatasnya pasokan bahan baku. Saat ini sebagian besar produsen mengandalkan molase sebagai bahan baku. Padahal, limbah pengolahan gula itu juga dibutuhkan industri lain seperti pabrik kecap dan penyedap rasa. Bahkan, sebagian lagi di antaranya diekspor. Indra Winarno mengatakan molase menjadi emas hitam belakangan ini. Dampaknya, hukum ekonomi pun bicara. Begitu banyak permintaan, harga beli bahan baku pun membubung sehingga margin produsen bioetanol menyusut. Beberapa produsen melirik singkong sebagai alternatif. Banyak yang membenamkan investasi di Lampung karena provinsi itu penghasil singkong terbesar di tanahair. Kehadiran mereka ternyata mendongkrak harga ubikayu di sana. ‘Dulu harganya di bawah Rp300 per kg. Sekarang lebih dari Rp400,’ ujar Donny Winarno, vice president PT Molindo Raya Industrial. Kenaikan harga itu berkah bagi para pekebun. Di sisi lain menyulitkan para produsen. ‘Saya berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan yang juga melindungi produsen,’ ujar alumnus University of California itu. Jika hambatan teratasi, produsen silakan meraup rupiah dari tetesan bioetanol. Soalnya, pasar bioetanol-sebagai bahan bakar-memang sangat besar karena populasi kendaraan bermotor meningkat. Menurut Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, penjualan mobil meningkat rata-rata 53.400 unit per tahun. Pemilik mobil tak perlu memodifikasi mesin untuk menggunakan campuran bioetanol. Pasar itu kian luas dan membaik ketika subsidi bahan bakar yang nilainya Rp1.681,25 per liter itu dicabut. Dengan kebutuhan 17-miliar liter, pemerintah menggelontorkan dana Rp28,6-triliun per tahun. Terlepas dari urusan bahan bakar, peluang pasar bioetanol tetap besar. Itu lantaran banyak industri yang memerlukannya. Sekadar menyebut contoh, industri bumbu masak, bedak, cat, farmasi, minuman berkarbonasi, obat batuk, pasta gigi dan kumur, parfum, serta rokok memerlukannya. Bahkan industri tinta pun perlu bioetanol. Produk itu berfaedah sebagai pelarut, bahan pembuatan cuka, dan asetaldehida. Menurut Ir Agus Purnomo, ketua Asosiasi Spiritus dan Etanol Indonesia (Asendo), kebutuhan etanol untuk industri rata-rata 140-juta liter per tahun. /*Investasi marak*/ Dengan segala kelebihan di atas, penggunaan bioetanol agaknya kian mendesak. Bukan hanya karena industri itu menjadi lokomotif pengembangan ekonomi dan menciptakan lapangan pekerjaan. Namun, juga lantaran harga minyak bumi yang diperkirakan melambung hingga US$100 per barel (1 barel = 117,35 liter) pada tahun mendatang. Itulah sebabnya, Johan Bukit produsen bioetanol memperkirakan, ‘Siapa pun presiden terpilih, pada 2009 sulit mempertahankan subsidi bahan bakar.’ Kondisi itu mendorong banyak investor membenamkan modal untuk membangun kilang hijau alias energi terbarukan. Johan Arnold Manonutu, misalnya, menjalin kemitraan dengan masyarakat Minahasa Selatan, Sulawesi Utara. Anak tunggal mantan Menteri Penerangan zaman Bung Karno itu menggelontorkan dana jutaan rupiah untuk membeli 5 unit mesin produksi bioetanol berkapasitas masing-masing 200 l/hari. Mesin-mesin itu ‘dipinjamkan’ kepada warga Desa Menara, Kecamatan Amurang Timur, Kabupaten Minahasa Selatan. Satu unit mesin dikelola 3 orang. Johan menampung hasil produksi mereka yang mencapai 1.000 liter sehari, dengan harga Rp6.000 per liter. ‘Harga itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga cap tikus yang hanya Rp300 per liter,’ ujarnya. Cap tikus yang ia maksud adalah sulingan nira aren berkadar etanol 35% yang lazim digunakan untuk bahan minuman keras. Johan memasarkan etanol itu ke beberapa rumahsakit untuk sterilisasi. Dengan harga jual Rp16.000-Rp17.000 per liter, omzetnya Rp16-juta-Rp17-juta per hari. Edy Darmawan dari PT Indo Acidatama berencana membangun pabrik pengolahan berkapasitas 50-juta liter per tahun di Lampung. Begitu juga Sugar Group Company (SGC), pemilik 3 pabrik gula raksasa yang mendirikan pabrik berkapasitas sama di Lampung Tengah. Mereka mengendus peluang besar dengan membangun kilang hijau yang ramah lingkungan. Pangsa pasar terbentang luas, harga memadai, bahkan dapat digunakan untuk keperluan sendiri. Itulah bioetanol, ‘bensin’ dari tetumbuhan. Ingin membangun kilang di halaman rumah agar mencecap manisnya berbisnis bioetanol? (*Sardi Duryatmo/Peliput: Andretha Helmina, Imam Wiguna, Lani Marliani, & Nesia Artdiyasa*)

Sumber: http://ahmadsamantho.wordpress.com/2007/12/06/bensinetanol-singkong-bb-oktan-tinggi/


Pabrik Bio-etanol Berbasis UKM Ada di Kebumen

Juni 16, 2008

Kebumen, Kompas – Pabrik pengolahan bio-etanol berbasis usaha kecil menengah dengan investasi Rp 3,7 miliar dioperasikan di Desa Munggu, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Senin (26/5). Pabrik yang dijalankan PT Bio Prima Energi Mandiri atau BPEM itu dapat menghasilkan 3.000 liter bio-etanol setiap hari dengan menggunakan bahan baku tebu, jagung, dan singkong.

Direktur Utama PT BPEM Dani Hidayat mengatakan, hingga Juni mendatang pihaknya masih menggunakan bahan baku tebu dari perkebunan Pabrik Gula Madukismo di Yogyakarta. ”Baru bulan Juni kami akan menggunakan jagung sebagai bahan baku bio-etanol,” katanya.

Bahan baku pembuatan bio- etanol bisa berganti-ganti sesuai persediaan di pertanian. Namun, untuk Kebumen, diupayakan menggunakan jagung secara optimal karena tersedia cukup banyak. ”Kalau tebu sudah tak panen, bisa diganti dengan jagung. Begitu juga kalau jagung dan tebu sedang tak panen, bisa digantikan dengan singkong,” katanya.

Dalam sambutannya, Bupati Kebumen Rustriningsih mengatakan, Kebumen memang memiliki potensi cukup besar untuk pertanian jagung. Panen jagung di Kebumen 27.000 ton per tahun.

Selain itu, juga ada potensi singkong. Pabrik itu juga menggunakan bahan baku singkong, ”Agar perekonomian masyarakat petani di Kebumen bisa meningkat,” kata Rustriningsih. Menurut Dani, pabrik membutuhkan 5 ton jagung per hari.

Menurut Direktur Marketing PT BPEM Sugeng Haryanto, bio-etanol itu dipasok ke PT Pertamina, Rp 5.500 per liter—kadar 85-90 persen—dijadikan bahan bakar kualitas premium hingga pertamax. PT BPEM juga mengolah bio-etanol menjadi bensin di Serang, Banten.

Setelah diumumkan 13 Februari lalu, pengembangan bahan bakar alternatif hidrofuel (bahan bakar air) masih menemui banyak kendala karena belum ada dukungan pemerintah dari segi dana dan kebijakan.

Demikian menurut Kepala Pusat Studi Pengelolaan Energi Regional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bledug Kusuma seusai mempresentasikan bahan bakar air yang dinamai banyugeni di Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Sleman, Senin. (MDN/A06)

source : www.kompas.com


Mengebor Bensin di Kebun Singkong

Juni 15, 2008

Tujuh tahun terakhir Zaenai Arifin rutin mengolah 1,5 ton singkong segar per hari menjadi keripik. Hasilnya 600kg keripik iajuaike beberapa daerah di Pulau Jawa, Bali, dan Lampung. Selain keripik, singkong juga sering diolah menjadi tapai. Begitulah secara turun-temurun anggota famili Euphorbiaceae itu dimanfaatkan. Namun, setahun terakhir singkong juga mengisi tangki-tangki motor dan mobil. Kendaraan itu melaju dengan bahan bakar singkong
Singkong diolah menjadi bioetanol, pengganti premium. Menurut Dr Ir Tatang H Soerawidjaja, dari Tcknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), singkong salah satu sumber pati. Pati senyawa karbohidrat kompleks. Sebelum difermentasi, pati diubah menjadi glukosa, karbohidrat yang lebih sederhana. Untuk mengurai pati, perlu bantuan cendawan Aspergillus sp. Cendawan itu menghasilkan enzim alfamilase dan gliikoamilase yang berperan mengurai pati menjadi glukosa alias gula sederhana. Setelah menjadi gula, bam difermentasi menjadi etanol.
Lalu bagaimana cara mengolah singkong menjadi etanol? Berikut Langkah-langkah pembuatan bioetanol berbahan singkong yang dilerapkan Tatang H Soerawidjaja. Pengolahan berikut ini berkapasitas 10 liter per hari.

  1. Kupas 125 kg singkong segar, semua jenis dapal dimanfaatkan. Bersihkan dan cacah berukuran kecil-kecil.
  2. Keringkan singkong yang telah dicacah hingga kadar air maksimal 16%. Persis singkong yang dikeringkan menjadi gaplek. Tujuannya agar lebih awet sehingga produsen dapat menyimpan sebagai cadangan bahan baku
  3. Masukkan 25 kg gaplek ke dalam tangki stainless si eel berkapasitas 120 liter, lalu tambahkan air hingga mencapai volume 100 liter. Panaskan gaplek hingga 100″C selama 0,5 jam. Aduk rebusan gaplek sampai menjadi bubur dan mengental.
  4. Dinginkan bubur gaplek, lalu masukkan ke dalam langki sakarifikasi. Sakarifikasi adalah proses penguraian pati menjadi glukosa. Setelah dingin, masukkan cendawan Aspergillus yang akan memecah pati menjadi glukosa. Untuk menguraikan 100 liter bubur pati singkong. perlu 10 liter larutan cendawan Aspergillus atau 10% dari total bubur. Konsentrasi cendawan mencapai 100-juta sel/ml. Sebclum digunakan, Aspergilhis dikuhurkan pada bubur gaplek yang telah dimasak tadi agar adaptif dengan sifat kimia bubur gaplek. Cendawan berkembang biak dan bekerja mengurai pati
  5. Dua jam kemudian, bubur gaplek berubah menjadi 2 lapisan: air dan endapan gula. Aduk kembali pati yang sudah menjadi gula itu, lalu masukkan ke dalam tangki fermentasi. Namun, sebelum difermentasi pastikan kadar gula larutan pati maksimal 17—18%. Itu adalah kadar gula maksimum yang disukai bakteri Saccharomyces unluk hidup dan bekerja mengurai gula menjadi alkohol. Jika kadar gula lebth tinggi, tambahkan air hingga mencapai kadar yang diinginkan. Bila sebaliknya, tambahkan larutan gula pasir agar mencapai kadar gula maksimum.
  6. Tutup rapat tangki fermentasi untuk mencegah kontaminasi dan Saccharomyces bekerja mengurai glukosa lebih optimal. Fermentasi berlangsung anaerob alias tidak membutuhkan oksigen. Agar fermentasi optimal, jaga suhu pada 28—32″C dan pH 4,5—5,5.
  7. Setelah 2—3 hari, larutan pati berubah menjadi 3 lapisan. Lapisan terbawah berupa endapan protein. Di atasnya air, dan etanol. Hasil fermentasi itu disebut bir yang mengandung 6—12% etanol
  8. Sedot larutan etanol dengan selang plastik melalui kertas saring berukuran 1 mikron untuk menyaring endapan protein.
  9. Meski telah disaring, etanol masih bercampurair. Untuk memisahkannya, lakukan destilasi atau penyulingan. Panaskan campuran air dan etanol pada suhu 78″C atau setara titik didih etanol. Pada suhu itu etanol lebih dulu menguap ketimbang air yang bertitik didih 100°C. Uap etanol dialirkan melalui pipa yang terendam air sehingga terkondensasi dan kembali menjadi etanol cair.
  10. Hasil penyulingan berupa 95% etanol dan tidak dapat larut dalam bensin. Agar larul, diperlukan etanol berkadar 99% atau disebut etanol kering. Oleh sebab itu, perlu destilasi absorbent. Etanol 95% itu dipanaskan 100″C. Pada suhu ilu, etanol dan air menguap. Uap keduanya kemudian dilewatkan ke dalam pipa yang dindingnya berlapis zeolit atau pati. Zeolit akan menyerap kadar air tersisa hingga diperoleh etanol 99% yang siap dieampur denganbensin. Sepuluh liter etanol 99%, membutuhkan 120— 130 lifer bir yang dihasilkan dari 25 kg gaplek

sumber : http://www.indobiofuel.com/cara%20membuat%20bioethanol%20singkong.php


    BBM Alternatif dari Kelapa

    Juni 7, 2008

    Rabu, 21 Juni 2006 | 18:34 WIB TEMPO Interaktif, Situbondo: Buah kelapa tak hanya diolah menjadi minyak goreng atau santan. Cairan dari buah serbaguna itu ternyata juga bisa menggantikan solar. Bahan bakar minyak dari buah kelapa kini tengah diproduksi di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

    Bahan bakar alternatif itu bisa digunakan oleh masyarakat umum dan merupakan sumber energi bagi alat pertahanan-keamanan milik TNI. PT Incofact Bio-Energy Baluran adalah perusahaan yang memproduksi bahan bakar minyak alternatif itu.

    “Teknologi biodiesel dari bahan baku utama buah kelapa semoga akan menjawab kelangkaan bahan bakar minyak solar di Indonesia,” kata Wakil Komandan Komando Pendidikan Angkatan Laut Brigadir Jenderal Marinir Slamet Santoso.

    Slamet berharap teknologi ini bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Hal itu disampaikannya seusai penandatanganan kontrak kerja sama PT IBB Situbondo dengan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat Sekolah Teknologi Tinggi Angkatan Laut di Situbondo, Jumat lalu.

    Menurut Mohammad Yahya Arif, direktur perusahaan yang berlokasi di Desa Sumberrejo, Kecamatan Banyuputih, Situbondo, teknologi PT Indonesia Coconut Factory Bio-Energy Baluran dikelola secara manual. “Kapasitas produksi kami setiap hari hanya sekitar 200 liter solar,” katanya.

    Untuk sementara, hasil produksi tersebut masih dikonsumsi warga sekitar. Sejak awal 2006, warga menggunakan solar-kelapa itu untuk bahan bakar diesel mesin perahu dan diesel untuk pengairan atau irigasi sawah.

    Kelebihan biodiesel asal kelapa ini, selain ramah lingkungan, harganya relatif murah. “Kami membeli Rp 4.000 per liter, lumayan menghemat biaya untuk melaut,” tutur Fathur Dasuki, 38 tahun, salah seorang nelayan warga Desa Sumberrejo.

    Limbah tempurung kelapa dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alat pendorong roket. Kelebihan inilah yang membuat teknologi biodiesel dilirik oleh lembaga penelitian milik Angkatan Laut itu.

    “Apalagi Indonesia merupakan penghasil buah kelapa, jadi kita bisa langsung memanfaatkan potensi alam itu untuk menghemat energi, terutama untuk menjawab kelangkaan BBM solar,” kata Kolonel Laut (E) Yosef Mursyidi, Komandan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat Sekolah Teknologi Tinggi Angkatan Laut.


    kantor everywhere

    Mei 31, 2008

    http://docs.google.com adalah situs dari google yang memperbolehkan orang untuk membuat dokumen yang berbentuk word, excel, dan presentasi. saratnya Anda harus memiliki account di google dan sifatnya gratis. pengalaman penulis menggunakan layanan baru ini adalah tidak memerlukan ruang simpan yang biasanya di letakkan di komputer atau flash disk, file langsung disimpan di server google yang disimpan secara virtual di server google. yang lebih asik lagi kita bisa mengetik-ngetik tabel di google docs dengan format excel tanpa menagktifkan microsoft excel dikomputer. google emang joss !!!